Jangan anggap remeh sebutir nasi


Sewaktu masih kecil, keluarga kami selalu dan tidak pernah meninggalkan makan bersama dengan seluruh keluarga. Masih ingat dalam benak saya, banyak sekali nasehat yang diberikan oleh orang tua saya ketika waktu makan. Diantaranya adalah habiskanlah seluruh nasi yang ada dan jangan tinggalkan sebutir nasi pun di dalam piring, dan apabila ada butiran nasi yang jatuh harus diambil dan dimakan sehingga tidak ada remah nasi yang berceceran. Selain itu orang tua saya juga bernasehat: Ambillah nasi kedalam piring secukupnya agar bisa dihabiskan dan jangan mengambil nasi terlalu banyak sehingga ketika sudah kenyang, nasi yang ada belum habis. Nasehat tersebut masih saya laksanakan sampai sekarang dan saya teruskan kepada anak-anak saya nantinya. Jangan anggap remeh sebutir nasi.
Jangan anggap remeh sebutir nasi


Seorang guru saya pernah berkata bahwa makan pagi, siang dan sore atau malam mempunyai banyak berkah dan manfaat, baik itu untuk kesehatan, kekuatan dan kecerdasan. Namun, dalam setiap piring nasi yang kita makan, hanya ada satu butir nasi yang memberikan manfaat dan berkah tersebut. Dan kita tidak tahu butiran nasi mana diantara banyaknya butiran nasi yang tersaji didalam piring tersebut yang mempunyai berkah dan manfaat tersebut. Sehingga ketika ada sebutir nasi yang jatuh dari piring harus diambil dan dimakan agar berkah yang ada tidak hilang.

Cerita diatas menunjukkan bahwa orang tua dan guru kita dulu yang kebanyakan adalah petani sangat menghormati dengan apa yang dimakan dan selalu berseyukur dengan apa yang dihidangkan. Menghabiskan nasi yang ada tanpa meninggalkan bekas remah merupakan wujud syukur kita karena telah diberi rezeki yang bisa dimakan.

Tahukah anda, ternyata ulama-ulama kita zaman dahulu pun melakukan hal tersebut, jika ada satu butir nasi saja yang jatuh, langsung diambil dan dimakan. Sebab, terkadang karena satu butir nasi bisa menimbulkan rasa sombong. Letak kesombongan ada di hati. Kadang-kadang, satu butir nasi saja jatuh, kita agak malu untuk mengangkatnya kembali: “Ah, cuma sebutir kok. Biarin saja lah. Masih punya beras yang banyak.”

Padahal, satu butir nasi itu bisa sampai di piring kita karena proses yang teramat panjang: ditanam, tanahnya dibajak, memakai sapi/kerbau/traktor, petaninya berkeringat di tengah terik matahari sehari penuh, mengairi, dicangkul, sampai panen membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Sesudah jadi beras pun, harus didistribusikan ke pasar, sampai ke warung beras, dibeli ibu kita sampai ke dapur, dibersihkan, ditanak sampai matang, dan tersaji di hadapan Anda.
nasi

Ada banyak tangan yang memiliki andil dalam sebutir nasi. Orang-orang tua kita pada zaman dahulu selalu mengajarkan untuk menghargai prosesnya. Sehingga kita bisa bersyukur dengan dan menghargai apa yang kita makan. Namun kadang dalam rizki yang sangat kecil (sebutir nasi) saja kita lupa untuk bersyukur, bagaimana bisa kita akan bersyukur untuk hal-hal yang besar? Semoga bermanfaat.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Jangan anggap remeh sebutir nasi"

Post a Comment

Pembaca yang Bijak adalah Pembaca yang selalu Meninggalkan Komentarnya Setiap Kali Membaca Artikel. Diharapkan Komentarnya Yah.....