Hebohnya Kasus Mirna


Sejak meninggalnya Wayan Mirna Salihin (27) yang meninggal usai menenggak es kopi Vietnam di Kafe Olivier, Grand Indonesia Mal pada Rabu, 6 Januari lalu, media cetak, online dan televisi sepertinya berlomba-lomba untuk memberitakan kasus ini. Dari tanggal 6 Januari lalu sampai dengan sekarang, terhitung sudah lebih dari sebulan berita ini saya lihat di televisi, media cetak dan media online. Bahkan dinding facebook saya juga penuh dengan tautan-tautan tentang kasus ini. Walaupun pada awalnya saya cuek dengan berita tersebut, namun hari ini terpaksa saya menulis sedikit tentang kasus mirna ini karena sebetulnya saya sudah muak alias bosan dengan berita-berita tentang kasus mirna. Setiap hari ketika saya melihat televisi, saya disuguhi dengan kasus kematian mirna, bosan trus saya pindah ke saluran lain, namun yang muncul berita itu lagi dan lagi. Baca Juga : KATA BIJAK KEHIDUPAN
secangkir kopi untuk mirna
Saya tidak menyalahkan ketika kasus tentang pembunuhan Mirna ini diberitakan oleh media, namun yang saya pertanyakan dan sesalkan mengapa kasus ini diberitakan terus menerus perkembangannya sampai satu bulan lebih. Saya mencoba membandingkan dengan kasus pengeboman Sarinah yang diberitakan selama satu bulan. Hal wajar ketika kasus pengeboman sarinah diberitakan terus menerus oleh media, karena ini sifatnya nasional dan menyangkut kehidupan orang banyak. Kasus Sarinah merupakan sebuah ancaman bagi bangsa Indonesia dan seluruh masyarakat Indonesia. Selain itu hal wajar jika Kasus tentang Gafatar juga menjadi topik hangat dan hampir tiap hari muncul di TV, karena Gafatar juga dianggap sebagai ancaman bagi Negara.
Pemberitaan media dan kasus mirna
Selanjutnya tentang kematian seseroang yang bernama Wayan Mirna Salihin, mengapa kasus ini diberitakan terus menerus? Padahal banyak sekali kasus pembunuhan lain yang tidak diangkat oleh media. Setahu saya, kematian mirna tidak berdampak bagi Negara Indonesia ini, kematian mirna tidak akan menyebabkan situasi Negara dalam keadaan darurat seperti kasus bom sarinah. Selain itu, Mirna bukanlah sosok orang terkenal seperti politikus, yang mungkin seandainya dibunuh akan membuat kekacauan didalam politik. Tapi mengapa kasus ini terus merajai media pemberitaan?



Jika dikaitkan dengan dunia media informasi, khususnya blog, jika ingin blognya banyak dikunjungi, maka seorang blogger harus mencari dan menulis artikel dari keyword yang lagi tenar. Dengan banyaknya pengunjung ke blog, maka bertambah pula penghasilan yang didapat dari blog tersebut. Nah, berkaca dari ilustrasi blogger tersebut, kemungkinan besar penyebab media selalu memberitakan tentang kasus Mirna adalah untuk memperoleh rating yang tinggi bagi TV dan lakunya penjualan media cetak atau banyaknya pengunjung bagi website, yang pada akhirnya akan berujung pada “uang” dan “uang”. Monitize berita khususnya kasus Mirna sepertinya sudah di Monetize oleh Media.


Yang menjadi permasalahan selanjutnya adalah bertambah rumitnya kasus Mirna ini sebagai akibat pemberitaan media yang berlebihan. Hal ini dikatakan oleh salah seorang polisi yaitu  Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Krishna Murti mengatakan pemberitaan media dan pendapat pengamat membuat kasus Mirna menjadi semakin rumit (Sumber). 

Akibat dari pemberitaan kasus Mirna tersebut, banyak sekali orang yang katanya “para ahli” turut serta berkomentar. Ada yang menuduh bahwa polisi sedang melakukan pencitraan (sumber), ada juga juga yang suka menebak siapa pelakunya dan ada juga yang menebak motif dari pembunuhan tersebut, bahkan yang bikin lucu adalah terlibatnya pendapat paranormal dalam kasus ini.


Terlepas dari semua itu, kita sebagai penikmat media, sudah seharusnya jeli dan pintar dalam memilih tentang berita mana yang berbobot dan berita mana yang tidak berbobot. Semoga bermanfaat.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Hebohnya Kasus Mirna"

Post a Comment

Pembaca yang Bijak adalah Pembaca yang selalu Meninggalkan Komentarnya Setiap Kali Membaca Artikel. Diharapkan Komentarnya Yah.....