Spiritualitas Pengalaman Cinta


Cinta tak dapat ditemukan dalam belajar dan ilmu pengetahuan, buku-buku dan lembaran-lembaran halaman. Apa pun yang orang-orang bicarakan itu bukanlah jalan para pecinta. Apa pun yang engkau katakan atau dengar adalah kulitnya: intisari Cinta adalah misteri yang tak dapat dibukakan. Baca Juga: CIRI-CIRI WANITA IDAMAN

cinta adalah misteri
Itulah sepenggal bait puisi dari Jalaluddin Rumi, pujangga sufi paling terkenal karena tema cinta dalam berbagai puisinya. Namun, seperti pernah dikemukakan oleh Annemarie Schimmel dalam talk show di sebuah televisi swasta nasional, seringkali cinta dalam puisi Rumi (juga puisi cinta mistik lainnya) diposisikan sebagai puisi cinta profan. Namun, banyak juga pembaca yang mengetahui bahwa ungkapan Cinta dalam puisi Rumi tersebut memang ditujukan kepada Allah. Namun, tetap tidak bisa dikatakan bahwa gagasan para pembacanya tentang “Cinta” sesuai dengan pemahaman Cinta yang Rumi maksudkan. Kenapa? Pengalaman dan proses pemurnian pengenalan Cinta yang bisa jadi berbeda.

masih cinta

Begini gambaran umumnya. Ketika terlahir ke dunia, bayi mengenal sebentuk cinta dari orang tuanya. Kemudian, bayi itu tumbuh besar. Dia pun mengenal sebentuk cinta lainnya, yaitu, cinta kepada sanak saudaranya. Kemudian dia tumbuh besar, memiliki sahabat dan mencintainya dalam sebentuk cinta lain. Tumbuh besar lagi, mengenal lawan jenis dan ada di antaranya yang menawan hatinya. Dia pun mengalami sebentuk cinta baru. Sampai pada satu titik dalam kehidupannya, dia pun memutuskan untuk menikah. Cinta yang dialami dalam masa pacaran itu berbeda dengan cinta dalam tanggung jawab membina rumah tangga. Bagaimana pun, cinta awal dalam pernikahan tersebut masih tercampur dengan unsur-unsur hasrat material (syahwat), misalnya cinta karena kecantikan dan penampilannya, dalam seksualitas, dalam kepemilikan harta, dan lain sebagainya. Juga hasrat imaterial, misalnya garis keturunan dan keningratan. Kemudian, lahirlah anak dalam pernikahan tersebut. Maka pasangan tersebut pun kembali mengenal sebentuk cinta baru, cinta kepada darah dagingnya sendiri.

Kemudian dalam perjalanan waktu, unsur-unsur yang membangkitkan hasrat material di antara pasangan tersebut mulai menyusut. Kecantikan atau ketampanan yang telah memudar, kulit tidak lagi mulus karena mulai berkeriput, tubuh yang dulu menggairahkan kini mulai bungkuk dan tak lagi menarik, gairah seksual dan daya reproduksi yang menurun, dan lain sebagainya. Pada saat itulah yang tersisa dari kedua pasangan adalah kesan-kesan selama kebersamaan yang menghasilkan sebentuk cinta yang lebih murni. Cinta yang tumbuh dari kesetiaan, perhatian dan kasih sayang, ketulusan, kesabaran serta ketabahan pasangannya dalam menjalani segala permasalahan yang datang dalam kehidupan mereka bersama. Cinta yang murni seperti itulah yang akhirnya dapat membantu seseorang dalam mengidentifikasi Cinta kepada Tuhan. Inilah sebentuk Cinta spritual yang seringkali berada di luar benak mereka yang baru mengenal manisnya cinta lawan jenis.

Di sisi lain, cinta murni tanpa unsur-unsur hasrat material tersebut bisa juga dibangun lebih awal melalui persahabatan murni antara sesama jenis. Misalnya, seperti persahabatan antara Rumi dengan Syamsuddin Tabriz, atau antara Socrates dan Plato. Setidaknya hubungan persahabatan semacam itu lebih terbebas dari unsur-unsur syahwati dikarenakan keduanya adalah sesama lelaki. Selain itu, tidak boleh diabaikan signifikansi pengalaman spiritual yang bukan berada di wilayah psikis, tetapi di wilayah jiwa (nafs) dan ruh. Selain itu, manusia pun mengalami berbagai cinta profan yang tertambat pada suatu objek dalam kehidupannya, misalnya pada objek material seperti benda kesayangannya, harta kekayaannya, atau tubuhnya dan lawan jenisnya. Atau objek imaterial seperti kepandaiannya, kedudukannya, kehormatannya, status dirinya, dan lain sebagainya.

Umumnya manusia akan menjadikan pengalaman yang dipunyainya, serta imajinasi kebertubuhannya, sebagai landasan penafsiran atas kehidupan. Dalam hal ini adalah pengalaman dari proses pemurnian pengenalan berbagai bentuk cinta. Karena tingkat pengalaman dan proses pemurnian pengenalannya pada setiap individu berbeda, maka pluralitas tafsiran adalah sesuatu yang niscaya. Misalnya, ketika di akhir tahun 90-an puisi Rumi tiba-tiba menjadi digemari di Amerika. Situs Amazon menjadi saksi sejarah antusiasme puisi cinta Rumi tersebut. Selebritis seperti Madonna dan Demi Moore dikabarkan juga menyukai puisi Rumi dan pernah membacakan di hadapan khalayak. Namun, pastilah sangat sulit untuk mengatakan dengan pasti bahwa kedua selebritis itu juga memiliki pengalaman dan proses pemurnian pengenalan cinta (juga pengalaman spiritual) sebagaimana yang dialami Rumi. Lebih aman untuk mengatakan bahwa mereka berdua menghayati puisi cinta Rumi sejauh pengalaman mereka mengenal kemurnia cinta, dan sesuai kadar campuran hasrat dalam pengalaman cintanya.

Tak mau ketinggalan, kaum homoseksual pun sangat berkepentingan secara politik untuk menafsirkan cinta dan persahabatan antara Rumi dengan Syamsuddin Tabriz, Socrates dan Plato sebagai sebentuk dorongan cinta homoseksual. Begitu juga halnya dengan berbagai ungkapan dan pernyataan yang terlontar dalam perayaan Valentine. Perayaan tersebut umumnya lebih mendapat tempat di kalangan muda gaul. Bagi mereka, perayaan ini penting untuk menebarkan spirit cinta. Namun, dalam usia mudanya serta kadar hasrat material dan imaterialnya, maka sebegitulah pengalaman dan proses pemurnian pengenalan cintanya. Hal yang serupa juga tidak luput akan mengena kepada mereka yang berkecimpung langsung dalam jalan spiritual. Tidak bisa dikatakan begitu saja bahwa mereka pun pasti memiliki kualitas pengalaman dan pemurnian pengenalan cinta yang sama dengan Rumi, sehingga pasti bisa memahami cinta spiritual yang dibicarakannya. Menarik bahwa pada umumnya kalangan filsuf agak alergi untuk berbicara tentang cinta, walau tidak sealergi apabila harus membicarakan Tuhan. Paling banter, para filsuf memilih untuk membicarakannya dengan menggunakan terminologi afeksi ketimbang cinta.

Kini banyak mencuat pembicaraan tentang pentingnya mengangkat aspek cinta Tuhan ketimbang aspek kepenghukuman-Nya dalam berbagai wacana agama. Hal itu memang berguna untuk menghindari sikap pembacaan harfiah sektarian yang mengarah pada munculnya kekerasan agama. Namun permasalahannya, bagaimana dengan inspirasi tentang pengalaman dan proses pemurnian pengalaman cinta seperti yang salah satunya dikenalkan oleh Rumi? Sangat sulit untuk mengatakan bahwa pengikisan hasrat material dan imaterial dari cinta yang dikenal adalah sesuatu yang menarik untuk diikuti. Manusia tetap lebih mencintai hasrat-hasrat profannya. Maka, pembicaraan tentang cinta pun menjadi pertanyaan: Cinta? Cinta dalam pengalaman yang mana?

Ditulis Oleh : Alfathri Adlin
(Tulisan lama yang pernah dimuat di Harian Pikiran Rakyat saat masih menjadi kolomnis tetap di harian tersebut...)
Sumber: Rusdian Malik
loading...

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Spiritualitas Pengalaman Cinta"

Post a Comment

Pembaca yang Bijak adalah Pembaca yang selalu Meninggalkan Komentarnya Setiap Kali Membaca Artikel. Diharapkan Komentarnya Yah.....