INGGIT GARNASIH

Sulit membayangkan Indonesia bisa Merdeka tanpa seorang Soekarno. Sama seperti sulitnya membayangkan seorang Soekarno bisa berkiprah sebagaimana yang kini dicatat sejarah, tanpa peran seorang istri yang luar biasa seperti Inggit. Kisah Inggit adalah kisah tentang ketulusan dan kebesaran hati.
istri-istri bung karno
sumber: google


Jauh sebelum Habibie menulis kisah cintanya bersama Hasri Ainun, sebuah roman sejarah yang kini menginspirasi banyak orang, sejak lama saya memuja buku “Kuantar ke Gerbang” (1981) sebagai roman yang mempertontonkan kisah cinta yang kuat sekaligus perih tak terperi. Ya, setiap kali membaca buku "Kuantar ke Gerbang", saya selalu tergetar menyimak perempuan yang satu ini. Inggit Garnasih. Republik ini berutang sangat banyak kepadanya. Karena pengorbanannya, keteguhannya, dan kerja kerasnya, Soekarno bisa leluasa mengeksploitasi kecemerlangannya dan bebas mengerjakan idealismenya.

Bayangkan, perempuan pembuat bedak dan jamu ini adalah tulang punggung bagi rumah tangganya, pengawal setia bagi perjuangan suaminya, dan pelayan yang tulus bagi aktor-aktor pergerakan yang kerap berkumpul di rumahnya. Ia tak pernah berhenti mengagumi suaminya, Si Koes, yang sejak lelaki itu masih menjadi anak semangnya, ia telah melihat bahwa kelak anak muda itu akan menjadi orang besar bagi jamannya.

Inggit Garnasih
Sumber: Google
Namun, “Kuantar ke Gerbang” bukanlah sekadar berisi biografi percintaan Inggit dengan Soekarno, melainkan juga sebuah buku yang menceritakan detail-detail kelahiran Republik ini sejak 1920-an. Dari buku itu, bisa kita dapatkan gambaran bagaimana pribadi manusia Soekarno, seperti, misalnya, bagaimana besarnya bakti dan hormatnya Soekarno kepada H.O.S. Tjokroaminoto.

Melalui buku itu pula kita bisa ketemu fragmen ini, fragmen bagaimana ia pertama kali mendapatkan inspirasi mengenai Marhaenisme.

Ceritanya, pada suatu petang Soekarno pulang dengan tergopoh-gopoh. Raut mukanya mengekspresikan kegembiraan yang tiada tara. Tak henti-hentinya ia bergumam. Sesudah meletakkan kereta anginnya, kepada istrinya, Inggit, segera ia bercerita ihwal kegembiraannya yang teramat sangat itu.

Soekarno mengaku bahwa ia baru saja menemukan sebuah konsep teoritis yang membuat semua pemikiran politiknya menjadi padu dan jelas: Marhaenisme! Ya, sore itu Soekarno baru saja menemukan pemikirannya yang paling orisinal.

Semua adegan itu diceritakan kembali oleh Inggit kepada Ramadhan K.H., yang kemudian menuliskannya menjadi buku “Kuantar ke Gerbang” tadi. Dari momen itu, belakangan kita mencatat bahwa Soekarno merumuskan gagasan-gagasan yang ditemukannya sore itu dalam risalah "Mentjapai Indonesia Merdeka" (1933).

Kisah Inggit adalah kisah tentang ketulusan dan kebesaran hati. Di akhir kolonialisme Belanda di Indonesia, Inggit mempersilakan Soekarno untuk mempersunting Fatmawati. Ia mundur. Tugasnya mengantarkan bekas anak semangnya itu usai sudah.

Betapa besar utang Republik ini kepada perempuan tangguh ini. Karena jasanya, kita bisa memiliki tokoh seperti Soekarno.

Di balik laki-laki tangguh, memang selalu terdapat perempuan hebat. Dan, menurut saya, Bu Inggit adalah orangnya, orang yang berada di balik kebesaran dan kehebatan seorang Soekarno.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "INGGIT GARNASIH"

Post a Comment

Pembaca yang Bijak adalah Pembaca yang selalu Meninggalkan Komentarnya Setiap Kali Membaca Artikel. Diharapkan Komentarnya Yah.....