Mengapa Harus Tersinggung Oleh Do'a?

Drama menteri Archandra sudah redup digantikan oleh doa menyindir pemerintah di rapat Paripurna. Ini adalah fenomena baru, sebuah kemajuan yg menorehkan sejarah. Saya pribadi secara substansi esensi oke-oke saja dengan doa itu, memang ada benarnya kok wkwkwk, camkan!
doa yang menyinggung
Sumber: Google
Hanya agak lucu saja, mainstream-nya doa-doa di momen begitu adalah yg berisi permohonan-permohonan kebaikan kepada bangsa secara umum, mendoakan kebaikan kepada para pemimpin, melangit. Adapun yg ini adalah doa yg tidak umum, membumi, merakyat, mem-perintah, kasarnya menyindir, doa yg politis, doa yg lebih mirip membaca kabar berita nasional atau mirip keluhan di pesbuk belaka, doa yg beneran kritis atau bisa juga seperti dilandasi curahan sakit hati pribadi akibat kalah pilpres kemarin. Saya kira, Tuhan juga maklum kalau ada kebenaran dalam doa-nya itu, meskipun Tuhan juga sambil tersenyum mendengarkannya.

Doa yg konyol, serangan politik berkedok doa, Tuhan dibawa-bawa, kebiasaan nih bawa-bawa sesuatu yg sakral & sensitif biar laku; agama.

Ada yg berkata; kalau mengkritik itu tak perlu menjadikan Tuhan sebagai makelar. Berpendapatlah dengan jelas dan berani. Bukan bersembunyi di balik kalimat yang dianggap doa.

Benar juga itu. Tapi selama ini khan kritik terbuka kepada pemerintah sudah banyak dan selalu ada senantiasa, maka kritik halus yg tersembunyi berpembalut doa pun juga harus dilaksanakan, siapa tau yg model tersirat ini yg didengarkan, baik oleh yg dikritik maupun oleh Allah subhanahu-wa ta'ala, jangan sok tau kamu kalau doa seperti itu tak boleh, smua kritikan dalam doanya tak ada yg bener, apalagi mustahil dikabulkan!

Saya kira ini jangan dianggap terlalu serius, bawa ngakak aja, masih dalam kewajaran, biasa aja, apa sih di Indonesia ini yg nggak wajar? Maknai saja peristiwa ini dengan positif, jangan suka tersinggung, kebiasaan suka mengeluarkan kata-kata kasar, lebih baik mengeluarkan sperma, eh.

Para pendukung Jokowi harus senantiasa santai menanggapi kritik, baik itu kritik yg normal maupun kritik yg overdosis. Karena, pendukung Jokowi pun ada membela jokowinya secara normal, ada pula yg overdosis, sama, contohnya kamu!
anggota dpr
Sumber: Google
Malah, biar tidak mainstream, doa di sidang DPR RI ini bagus dicontoh, diikuti, dilaksanakan pada penutupan rapat antara legislatif & eksekutif, dijadikan suri tauladan oleh DPRD-DPRD lain di seantero negeri ini. Kritik dalam doa boleh juga, pasti lebih berasa khidmat, mendalam, dan mengena. Daripada kritik-kritik terbuka yg biasa kasar blak-blakan, lebih baik kritik dalam doa, dijamin tak seperti itu. Mungkin bisa disisipi kalimat-kalimat jenaka atau misuh-misuh dikit doa juga gapapa, semisal; "Allahumma, ilahi, Ya Alloh, ya Robbi, ya Tuhan kami, Fencifta kami, emmmmm si anu fara femimfin kami di fusat dan di bawah fusat, termasyuk zuga kami anggota defe'er ini ferilakunya bagi bangsya ini syungguh prek, taek, ziancuq, kodok jaran, sapi jaran, kuda jaran, jmbt, kntl". Lah, astagfirulloooohal-adziiiiim........

Penulis: Rusdian Malik
loading...
loading...

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Mengapa Harus Tersinggung Oleh Do'a?"

Post a Comment

Pembaca yang Bijak adalah Pembaca yang selalu Meninggalkan Komentarnya Setiap Kali Membaca Artikel. Diharapkan Komentarnya Yah.....