photo lineviral_1.png

Pergaulan Bebas Sebelum Menikah

Pergaulan Bebas dalam bahasa Latin adalah sexus, yaitu merujuk pada alat kelamin. Se*s hanya memiliki pengertian mengenai jenis kelamin, anatomi dan fisiologisnya, sedangkan menurut Budiarjo se*sual merupakan sesuatu yang berhubungan dengan se*s dan reproduksi juga berhubungan dengan kenikmatan yang berkaitan dengan tindakan reproduksi. (Luthfie, 2002). Baca Jua : Pergaulan Bebas
Seks Pranikah

Budiarjo mendefinisikan se*sualitas merupakan aspek-aspek dari individu yang membuatnya mudah untuk berperilaku se*sual dan juga membuatnya tertarik dengan lawan jenis. (Luthfie, 2002). Sementara itu menurut Thornburg menjelaskan se*sualitas meliputi karakteristik fisik dan kapasitas untuk berperilaku se*s yang dipadukan dengan hasil proses belajar psikose*sual (nilai, sikap dan norma) sehubungan dengan perilaku tersebut.

Perilaku se*sual dapat didefinisikan sebagai bentuk perilaku yang didorong oleh hasrat se*sual baik dengan lawan jenis maupun sejenis. Menurut Simkin, perilaku se*sual adalah segala tingkah laku yang didorong oleh hasrat se*sual baik dengan lawan jenis maupun dengan sesama jenis. Bentuk tingkah laku ini beraneka ragam mulai dari perasaan tertarik hingga tingkah laku berkencan, bercumbu dan bersenggama. (Amrillah, 2006 ).

Paat mendefinisikan perilaku se*sual merupakan perilaku yang dihayati oleh segala bentuk manifestasi naluri se*sual manusia dalam kehidupannya. Sementara itu menurut Djubaidah dan Ellyawati mendefinisikan perilaku se*sual sebagai hubungan khusus antara pria dan wanita yang sifatnya erotis. Perilaku se*sual yang dicetuskan individu merupakan implikasi suatu proses mental terhadap situasi dan kondisi konkrit jasmani yang mengarah pada pola pemenuhan kepuasan psikis. (Amrillah, 2006).

Menurut Chaplin, tujuan se*sual sendiri adalah untuk kesenangan atau kepuasan se*sual atau juga pengendoran ketegangan se*sual. Kartono juga menjelaskan bahwa se*s adalah mekanisme bagi manusia untuk melanjutkan keturunan. Se*s bukan hanya perkembangan dan fungsi primer saja, tetapi juga termasuk gaya dan cara berperilaku kaum pria dan wanita dalam hubungan interpersonal atau sosial. (Amrillah, 2006)

Kartini Kartono (1999) mendefinisikan bahwa Pergaulan Bebas tidak beda dengan pelacuran (prostitusi) karena aktivitas se*sual yang mereka lakukan tidak lagi mengindahkan nilai-nilai dan norma-norma dalam masyarakat. Pergaulan Bebas Sebelum Menikah merupakan aktivitas se*sual yang dilakukan tanpa mengindahkan nilai-nilai dan norma-norma dalam masyarakat yang mengaturnya. Selain itu relasi se*s mereka bersifat tidak tetap atau cenderung tidak setia pada pasangan mereka. Sebagian besar remaja yang terjerumus pada perilaku Pergaulan Bebas pranikah merupakan akibat dari stimuli atau rangsangan melalui gambar-gambar porno, seringnya nonton film porno, dan stimuli melalui lingkungan pergaulan misalnya seorang teman yang menceritakan pengalaman se*sualitasnya.
Seks sebelum menikah
Faktor-faktor yang menyebabkan perilaku Pergaulan Bebas pranikah
Banyak faktor eksternal yang mempengaruhi perilaku Pergaulan Bebas sebelum menikah. Faktor-faktor tersebut antara lain adalah tempat tinggal (Reschovsky dan Gerner, 1991), keluarga, kawan, dan komunitas (Thornton dan Camburn, 1987; Udry dan Billy, 1987). Faktor-faktor lainnya dapat diidentifikasi dari dalam individu.

Dari kajian berbagai literatur baik yang berupa hasil-hasil penelitian maupun textbook, Clayton dan Bokemeier (1980) menyimpulkan bahwa perilaku Pergaulan Bebas sebelum nikah erat sekali kaitannya dengan sikap permisif terhadap perilaku Pergaulan Bebas sebelum nikah tersebut. Sikap sebagai predisposisi perilaku memang tidak selamanya akan manifes. Menurut Ajzen (1988), Fishbein dan Ajzen (1975) serta Worchel dan Cooper (1983) sikap dan perilaku bisa konsisten apabila sikap dan perilaku yang dimaksud adalah spesifik dan ada relevansinya satu dengan yang lain. Karena sikap permisif terhadap hubungan Pergaulan Bebas sebelum nikah dan perilaku se*s sebelum nikah spesifik dan relevan satu dengan yang lain, maka sikap tersebut bias menjadi prediktor bagi perilakunya.

Dijabarkan oleh ahli-ahli lain, sikap tidak permisif terhadap hubungan Pergaulan Bebas sebelum menikah atau disebut traditional permissiveness indikatornya adalah aktivitas keagamaan dan religiusitas (lihat Clayton dan Bokemeier, l980).

Hasil penelitian Staples (1978) memang menunjukkan bahwa keaktifan datang ke gereja berkorelasi negatif dengan sikap permisif terhadap hubungan Pergaulan Bebas sebelum nikah. Berkaitan dengan sikap permisif adalah orientasi terhadap kebebasan. Konservatisme cenderung menghambat munculnya sikap permisif sedangkan orientasi kebebasan dan mendorong ke arah perilaku Pergaulan Bebas. Apabila pasangan dalam pacaran itu sama-sama memiliki dorongan ke arah perilaku Pergaulan Bebas, maka kemungkinan terjadinya hubungan Pergaulan Bebas sebelum nikah akan mudah terjadi (Faturochman,1990).

Dorongan Pergaulan Bebas belum tentu bisa terealisir tanpa ada kesempatan untuk mewujudkannya. Oleh karena itu faktor kesempatan ikut mempengaruhi terwujudnya hubungan se*s (Schulz dkk, dalam Clayton dan Bokemeier, 1980).

Dari uraian-uraian di atas bisa disimpulkan bahwa faktor- factor yang mempengaruhi terjadinya perilaku Pergaulan Bebas sebelum nikah dapat dibedakan antara faktor-faktor di luar individu dan di dalam individu. Faktor di dalam individu yang cukup menonjol adalah sikap permisif. Sikap permisif itu sendiri banyak dipengaruhi oleh faktor luar dan dalam diri individu. Dengan demikian faktor sikap dapat dijadikan prediktor yang kuat terhadap munculnya perilaku Pergaulan Bebas sebelum menikah. Oleh karena itu untuk memahami perilaku Pergaulan Bebas sebelum menikah bisa dilihat dari sikapnya.

Selanjutnya berbagai faktor yang mempengaruhi sikap dan perilaku Pergaulan Bebas tersebut tidak bisa berlaku sama untuk pria dan wanita. Pendapat para ahli dan hasil- hasil penelitian menunjukkan bahwa pria lebih permisif sikapnya dan aktif melakukan hubungan Pergaulan Bebas sebelum menikah.
Buat lebih berguna, kongsi:
close