photo lineviral_1.png

Aksiologi Nuklir dan Pilihan Moral

Persenjataan nuklir. Ketika Perang Dingin sedang berlangsung antara Blok Komunis yang bergabung dalam Pakta Warsawa dan Blok Barat yang bersatu dalam NATO, persenjataan nuklir menjadi masalah moral yang besar. Persenjataan baru ini, yang dimungkinkan oleh fisika nuklir sebagai  ilmu dan teknologi  baru, menimbulkan banyak pertanyaan baru pula. Senjata nuklir tidak lagi termasuk kategori senjata yang dikenal sampai saat itu. Senjata konvensional dipakai oleh tentara melawan tentara. Tentu saja, sebagai alat yang bertujuan membunuh, setiap senjata adalah barang yang bermasalah.

aksiologi nuklir dan pilihan moral


Dan perang yang melibatkan senjata selalu merupakan kejadian yang harus disesalkan. Namun demikian, semua orang akan mengakui bahwa terjadinya perang kadang-kadang tidak dapat dihindarkan. Bila musuh menyerang negara kita, kita berhak membela diri. Dalam pemikiran etika, sudah lama diterima pengertian “perang yang adil” (just war), artinya perang yang secara moral dapat dibenarkan, meskipun pihak yang terlibat dalam perang itu memakai senjata destruktif.

Dalam kondisi seperti itu senjata dipakai untuk melawan yang mempunyai senjata juga: tentara melawan tentara. Senjata nuklir sama sekali melampaui kondisi konvensional itu. Senjata nuklir (bersama senjata biologis, kimia, dan sebagainya) termasuk yang sekarang disebut senjata pemusnah massal. Bila senjata serupa itu dipakai, yang terkena bukan saja tentara musuh, melainkan juga dan malah terutama warga sipil yang tidak ikut dalam perang atau yang dalam bahasa Inggris disebut noncombatants: anak-anak, ibu-ibu, orang berusia lanjut, dan sebagainya. Dengan membabi buta, senjata nuklir membunuh seluruh penduduk suatu kota atau daerah.

Banyak etikawan menyimpulkan: pemakaian senjata nuklir tidak pernah dapat dibenarkan. Senjata-senjata ini menurut kodratnya tidak etis. Untuk memperkuat argumentasi ini, para etikawan menunjuk kepada dua bom atom yang pernah dipakai dalam  sejarah , yaitu pada akhir Perang Dunia II. Bom-bom atom ini dipakai terhadap kota-kota Jepang, Hiroshima dan Nagasaki, bukan terhadap tentara Jepang. Ratusan ribu warga sipil menjadi korban pembantaian nuklir ini. Warga yang terkena secara langsung “menguap” begitu saja dengan hanya meninggalkan bekas di atas tanah, karena kepanasan yang luar biasa besar. Ratusan ribu warga sipil lain meninggal dalam tahun-tahun kemudian, karena radioaktivitas yang terlepas dalam eksplosi nuklir ini mengakibatkan banyak jenis kanker yang mematikan.

Fenomena terakhir ini menyajikan argumen lain lagi melawan persenjataan nuklir. Senjata nuklir bukan saja dahsyat dalam mengakibatkan banyak korban, dahsyatnya sama besar dalam merusak lingkungan hidup, dengan radioaktivitas yang disebarkan karenanya. Kalau dipakai pada skala besar, bom atom sanggup menghancurkan seluruh kehidupan di bumi ini. Dan arsenal nuklir yang dikembangkan oleh Uni Soviet dan Amerika Serikat beserta sekutunya memang mempunyai kesanggupan destruktif ini. Dengan demikian, menjadi lebih jelas lagi bahwa senjata semacam ini tidak etis. Pembuatannya, pemilikannya, apalagi pemakaiannya tidak pernah dapat dibenarkan.

Walau begitu, saat Perang Dingin dilakukan usaha juga untuk membenarkan sekurang-kurangnya pembuatan dan pemilikan senjata nuklir. Usaha itu cukup berhasil dengan apa yang disebut the deterrence theory. Senjata ini dianggap sebagai the nudear deterrent. Ungkapan ini agak sulit untuk diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia. Dalam pers Indonesia kini sering dibaca terjemahan “daya tangkal nuklir”, tapi terjemahan ini tidak seluruhnya memuaskan. To deter berarti membuat orang lain takut untuk melakukan sesuatu, sehingga ia tidak akan melakukannya. Persenjataan nuklir tidak mempunyai daya tangkal seperti yang dimiliki penangkal petir, umpamanya. Daya tangkal yang dimiliki oleh persenjataan nuklir bersifat preventif.

Teori deterrence berpikir sebagai berikut. Karena Blok Komunis dan Blok Barat sama-sama memiliki arsenal destruktif ini, mereka tidak pernah akan memakainya. Seandainya Blok Komunis nekad melakukan serangan nuklir, Blok Barat pasti akan memukul balik dengan serangan lebih hebat lagi. Dengan demikian, muncul keadaan paradoksal tapi nyata: pemilikan senjata nuklir oleh dua pihak yang bermusuhan ini menjamin bahwa persenjataan ini tidak pernah akan dipakai. Perdamaian didasarkan atas keseimbangan kekuatan nuklir. Dalam konteks ini, pada tahun 1970 diadakan Traktat Nonproliferasi Nuklir untuk membatasi jumlah negara yang memiliki senjata nuklir. Kemudian, menyusul lagi Strategic Arms Limitation Talks (SALT) dengan maksud membatasi perlombaan persenjataan nuklir. Semua upaya ini bertujuan menjaga keseimbangan kekuatan.

Ketika Uni Soviet runtuh sebagai rezim komunis pada tahun 1991, situasi berubah total. Adanya persenjataan nuklir tidak dirasakan lagi sebagai masalah etis. Memang benar, Rusia, Amerika Serikat, Inggris, dan Perancis tetap memiliki arsenal nuklirnya, tetapi hal itu tidak lagi dinilai sebagai ancaman untuk pihak lain. Ketika India dan Pakistan beberapa tahun kemudian diketahui memiliki senjata nuklir, hal itu dialami sebagai gejolak sebentar, tetapi tidak lama karena keadaan antara dua negara yang sering bertentangan itu tampak tetap terkendali.

Akhir-akhir ini persenjataan nuklir menjadi masalah moral lagi karena ulah Korea Utara dan Iran. Korea Utara diduga sudah melakukan percobaan nuklir dan secara resmi telah menarik diri dari Traktat Nonproliferasi Nuklir pada 2003. Iran sedang mengembangkan program nuklir untuk membangkitkan energi, tapi dicurigai mempunyai tujuan lebih jauh untuk membangun sistem senjata nuklir. Dua negara ini mempunyai pemimpin diktatorial yang tidak dapat diandalkan dalam kerjasama internasional. Di mata banyak negara lain mereka merupakan rogue states atau negara bajingan. Ulah mereka tidak bisa diprediksi. Siapa tahu, satu hari mereka bersedia bekerja sama dengan teroris. Dengan demikian, teori deterrence dulu tidak lagi berlaku di sini. Jika sekarang ada teroris yang tidak menghargai kehidupan hingga nekad membunuh diri dengan maksud memukul pihak lain, negara bajingan bisa mempunyai sikap yang sama. Mereka bisa tidak peduli lagi dengan nasib mereka sendiri, asalkan musuh (di mata mereka) dirugikan sebanyak mungkin.

Kini semakin terdengar suara yang menyerukan penyelesaian masalah nuklir secara definitif. Sekarang saatnya, mereka tegaskan untuk mengadakan perlucutan nuklir total. Dana luar biasa besar yang dihemat dengan itu lebih baik dipakai untuk memerangi kelaparan dan penyakit yang masih melanda banyak negara miskin. Tentu saja, hal itu hanya bisa dilaksanakan dalam rangka PBB. Jika masih ada satu dua negara yang merasa enggan ikut dalam persetujuan ini, mereka dapat dipaksakan oleh komunitas intemasional. Keamanan dunia hanya mungkin tercapai bila semua negara ikut. Dari sisi lain, kalau kita jujur, perlu kita akui bahwa keadaan sekarang tidak adil dan tidak logis. Selama masih ada negara yang boleh memiliki senjata nuklir, mengapa negara lain tidak boleh? Bila pemakaian alat perang ini secara etis tidak bisa dipertanggungjawabkan, satu-satunya langkah yang logis adalah pelucutan nuklir total.

Mengapa Indonesia tidak mengambil inisiatif ke arah itu? Sudah ada beberapa negara yang secara eksplisit menyatakan tidak mempunyai ambisi itu. Mengapa tidak mengerahkan semua negara yang sependapat? Dengan demikian, Indonesia dapat memberikan kontribusi besar kepada perdamaian dunia.
Buat lebih berguna, Mari Bagikan:
close