photo lineviral_1.png

Ekonomi Politik Industrialisasi di Singapura

Kekhawatiran menyelimuti perekonomian Singapura di era pertengahan 1950-an menyangkut kelangsungan negara tersebut sebagai entreport. Pada 1960-an, 94 persen ekspor Singapura merupakan barang-barang ekspor kembali. Perdagangan dalam skala luas, keuangan, dan pengapalan masih berada di tangan agensi-agensi lama. 

Ekonomi Politik Industrialisasi di Singapura


Beberapa perusahaan skala luas yang bergerak di bidang percetakan, penerbitan, makanan, dan pengolahan karet alam berada di tangan perusahaan keluarga orang-orang Cina, tetapi sebagian besar bisnis Singapura adalah dalam bidang eceran (retail), perusahaan-perusahaan jasa, kecil dan miskin akan modal.

Berbeda dengan Taiwan dan Korea Selatan di mana Partai Komunis telah dikalahkan sejak permulaan, tidak demikian halnya di Singapura. Di negara ini, meskipun Partai Komunis telah dikutuk, namun ia mampu membangun basis yang kuat dalam serikat-serikat dagang, sekolah-sekolah Cina, dan masyarakat Cina yang terdidik pada umumnya. Ini membuat Partai Komunis menjadi “rival” kuat di Singapura sepanjang 1950-an. Sementara itu, PAP sendiri tidak mempunyai ikatan yang kuat di tingkat grass-root dan mengalami perpecahan antar kelompok moderat di bawah Lee Kuan Yew dan kelompok kiri.

Selanjutnya, setelah meraih kekuasaan pada 1959, pemerintahan PAP meluncurkan sebuah rencana pembangunan yang dikenal cukup penting bagi keterlibatan dan tindakan negara dalam mempromosikan industrialisasi dan dalam rangka mengatasi pengangguran. Sesuatu yang telah menjadi masalah di era 1950-an. Menjelang 1961, dengan kekalahan kelompok kiri telah memberikan landasan bagi PAP untuk mengeluarkan kebijakan yang bersifat pragmatis dengan menciptakan iklim yang kondusif bagi investasi dengan menyediakan infrastruktur, pelayanan sosial, dan perumahan.212 Peraturan baru telah menetapkan untuk mengurangi pajak perusahaan secara dramatis industri-industri pelopor dan dewan pengurus pembangunan ekonomi didirikan pada 1961 yang diberi kekuasaan untuk memberikan pinjaman dan purchase equity dalam bisnis-bisnis swasta.

Pemisahan dari Malaysia telah menciptakan situasi baru di kawasan ini. Pemisahan Singapura dari pasar Malaysia mengakibatkan suplai bahan-bahan mentah dan substitusi impor tidak dapat berjalan. Investasi lokal lebih terkonsentrasi pada perusahaan pelayanan jasa, real estate, dan perdagangan domestik. Mereka ini biasanya cukup konservatif dalam pandangan dan mempunyai sedikit pengalaman dalam industri manufaktur. Perusahaan-perusahaan lokal tampak tidak bisa menjadi pelopor pertumbuhan. Di bawah situasi seperti ini, strategi yang berorientasi keluar ditujukan untuk melibatkan triple industri pioner pada 1959 yang mengizinkan 100 person pemilikan asing dan secara penuh pengiriman kembali keuntungan.

Ini berarti bahwa perusahaan-alliance, di mana negara dan perusahaan swasta luar negeri akan mendominasi. Untuk itu, ada tiga kebijakan yang diluncurkan pada 1967 dan 1968, yakni sebuah usaha yang diperbarui untuk menarik modal luar negeri, peran yang makin meluas dari negara dalam pembiayaan industrial, dan di atas semua itu, kontrol yang intensif terhadap gerakan-gerakan buruh.

Insentif bagi investasi diperluas di bawah peraturan perusahaan asing yang melakukan investasi asing di Singapura dapat memulangkan seluruh jumlah keuntungan yang didapatnya ke negara asalnya. Kebijakan ini penting dalam rangka menarik investasi asing sebanyak-sebanyaknya guna menopang industrialisasi berorientasi ekspor yang dicanangkan oleh peme-rintah. Pada 1967, peraturan tersebut diganti dengan sebuah tindakan-tindakan ekonomi ekspansif yang memperluas insentif baru untuk modal asing. Insentif formal, namun demikian, mungkin kurang penting bagi investor dibandingkan dengan stabilitas politik dan tentu saja kontrol yang cukup kuat terhadap gerakan-gerakan buruh. Sebagaimana dijelaskan kemudian bahwa kebijakan upah buruh yang relatif rendah ini telah dijadikan oleh pemerintah sebagai semacam keunggulan komparatif dibandingkan negara-negara lain.

Akhirnya, kombinasi antara insentif dengan kontrol terhadap buruh merupakan kebijakan yang cukup favourable dalam menarik investasi asing di bidang industri manufaktur yang padat karya. Selain insentif dan kontrol terhadap buruh, peran pemerintah juga dapat dilihat dalam posisinya visa-visa perusahaan lokal. Hingga awal 1980-an, perusahaan-perusahaan lokal harus berkompetisi dengan perusahaan-perusahaan asing dalam hal pasar. Dan ketika dukungan pemerintah semakin meningkat, perusahaan-perusahaan lokal secara efektif terhalang untuk memasuki industri  berteknologi tinggi .

Perubahan berorientasi ekspor ini (export-led growth) dan kebijakan yang terbuka terhadap investasi asing singapura selanjutnya bersandar pada beberapa faktor, yakni: Pertama, konsolidasi kekuatan dari partai tunggal dan dikeluarkannya kelompok kiri membuat Lee mempunyai kesempatan untuk menjalankan  kebijakan ekonomi  yang bersifat pragmatis untuk mendorong industrialisasi yang mendasarkan pada peran utama dari pihak swasta dan kontrol yang kuat terhadap buruh. Situasi ini tidak boleh tidak diciptakan oleh keputusan Singapura untuk mengakhiri hubungan dengan Malaysia yang membuat strategi berorientasi ekspor menjadi lebih atraktif. Lemahnya kemampuan perusahaan-perusahaan lokal untuk menjadi pelopor industrialisasi di bidang industri manufaktur, dengan demikian, membuat ketergantungan terhadap perusahaan-perusahaan asing menjadi demikian kuat.
Buat lebih berguna, kongsi:
close