photo lineviral_1.png

Sebagian Permasalahan Puasa Ramadhan

Kali ini saya akan membagikan sebuah tulisan yang berasal dari Kitab Bughyatul Mustarsyidin Karangan Mufti Hadramaut Allamah Sayyid Abdurrahman bin Muhammad Almasyhur (1250 H– 1320 H).

Masalah Niat Dalam Puasa Ramadhan


Kitab ini sudah dialihbahasakan atau diterjemahkan oleh Bahransyah H. Bardi (Alumni Ponpes Darul Ihya’ Liulumiddin Bangil-Jatim) di Banjarmasin, pada tanggal 3 Ramadhan 1419 H atau 19 Mei 2018 M.

A.    Masalah Niat Dalam Puasa Ramadhan

(Fatwa Imam Al Allamah Muhammad bin Abu Bakar Al Asykhar Alyamaniy)
Tidak dianggap cukup (tidak sah niatnya) seseorang yang hanya mengatakan / berniat : “Saya berniat puasa besok” (tanpa menyebutkan “Ramadhan”), tetapi ia wajib untuk menyatakan dalam niatnya kata-kata bulan Ramadhan, sebab puasa Ramadhan ini, merupakan ibadah yang disandarkan kepada waktu (yaitu bulan Ramadhan), oleh karena itu wajib menentukan / menyebutnya (puasa tersebut secara khusus).

Sedangkan menyebutkan “Fardhu”, maka menurut pendapat yang mu’tamad (kuat), hal itu tidak diwajibkan, sebab puasa Ramadhan yang dilakukan oleh orang yang mukallaf (orang yang terkena kewajiban hukum agama) itu pastilah fardhu, berbeda halnya shalat, sebab shalat yang diulang adalah shalat sunnah (dihukumkan sunnah). 

Meneteskan obat Tetes Telinga kedalam Telinga Waktu Puasa

B.    Meneteskan obat Tetes Telinga kedalam Telinga Waktu Puasa

(Faedah) : Ada seseorang yang diberi cobaan penyakit yang terdapat di telinganya,  dimana ia tidak bisa merasa nyaman/tenang, kecuali dengan cara meletakkan (ke dalam telinganya) obat yang diteteskan di minyak atau kapas.

Dengan menggunakan obat tersebut, rasa sakit itu menjadi ringan atau bahkan lenyap, Kesembuhan itu baik dengan perasaan dari dirinya sendiri atau lewat pernyataan dokter, maka menggunakan obat tersebut dengan cara demikian hukumnya boleh dan puasanya tetap sah, karena darurat. 

Gusi Berdarah Saat Puasa

C.    Gusi Berdarah Saat Puasa


Fatwa Imam Bahuwayrist.  (Fatwa Imam Al Allamah Abdullah bin Alhusein bin Abdullah Bafaqih)

Ada seorang, giginya yang sakit tercabut, sedangkan dia dalam keadaan berpuasa, maka darah serta air liur yang tercampur dengan darah tersebut,  itu semua tidak dimaafkan (harus dibasuh, karena dihukumkan najis) meskipun air liurnya bersih (dominannya air liur daripada darah), bahkan dalam kondisi seperti ini ia wajib membasuh mulutnya.

Akan tetapi jika hal ini sudah tidak bisa dihindarinya lagi (artinya, darah terus menerus keluar, meskipun ia sudah membasuh mulutnya), maka kondisi seperti ini ia dimaafkan tidak wajib untuk terus membasuh mulutnya), umpamanya darah gusi yang terus menerus mengalir yang, dimana ia sulit untuk menghindarinya, dibolehkan ia berludah sampai bersih air liurnya (tanpa diwajibkan untuk membasuh mulutnya) sebab dalam kondisi seperti ini, jika ia dipaksakan untuk membasuh mulutnya di sepanjang siang harinya, maka tentu saja hal ini akan memberatkannya, bahkan malahan terkadang (membasuh mulut itu) bisa menambah deras mengalir darah di gusinya tersebut.

Keringanan puasa dalam masalah gusi berdarah ini, sama halnya di saat shalat, Namun dalam shalat dimaafkan dari darah yang dikatagorikan masih sedikit yang terdapat di mulut, dengan syarat tidak ditelannya, pendapat ini dinilai rojih (unggul)  oleh Imam Ibnu Hajar. (Selesai fatwa Imam Al Allamah Abdullah bin Alhusein bin Abdullah Bafaqih)

Saya (penulis Bughyah) katakan : Imam Ramli mengunggulkan pendapat yang tidak memaafkan mengenai darah yang ada di mulut saat shalat secara mutlak (sedikit atau banyak, sulit dihindari atau tidak) seperti halnya darah yang mengalir dari lubang anggota badan.

Adapun saat berpuasa, maka ulama sepakat, tidak mengapa terus menerus adanya darah di dalam mulut secara mutlak sampai ia menelannya, dengan syarat yang telah lewat.

Dalam kitab Tuhfah Imam Ibnu Hajar dan fatwa Imam Ba Isyan : Kita (para ulama Fiqih Syafi’i) memiliki pendapat yang membolehkan air liur yang tercampur dengan darah gusi secara mutlak (sedikit atau banyak, sulit dihindari atau tidak) dengan syarat air liurnya masih bersih.

Imam Ba Isyan menambahkan : mengenai air liur menjadi najis disebabkan darah (gusi) adalah sesuatu hal yang musykil (tidak jelas), karena darah tersebut adalah najis yang tercampur rata dengan benda cair, kalau gambarannya seperti hal tersebut, berarti benda cair yang bertemu dengan darah itu tidak najis, sebagaimana darah yang terdapat di daging (umpamnya kambing), apabila daging tersebut diletakkan di dalam air untuk dimasak, maka darah yang terdapat di daging itu tidak membuat airnya menjadi najis.

(Fatwa Syekh Muhammad bin Sulaiman Alkurdy) Dihukumkan ma’fu (dimaafkan /tidak dianggap najis) darah gusi yang mengalir terus menerus atau sering mengalir
(di mulut), dalam kondisi seperti ini tidak paksakan untuk wajib membasuh mulut karena adanya masyaqqah (suatu hal yang memberatkan).

Berbeda halnya dalam masalah, dimana seseorang membutuhkan untuk muntah, hal ini nyatakan oleh seorang dokter, maka kondisi ini batal puasanya, masalah ini disamakan dengan mengeluarkan lalat dari mulut.

Dan andaikata ada seseorang  yang tertimpa musibah kemasukan ulat dalam rongga
badannya, lantas ia keluarkan umpamanya dengan jarinya, maka puasanya tidak batal, jika cara demikian satu-satunya cara, hal ini disamakan dengan memasukkan kembali penyakir bawasir ke dalam dirinya.

(Masalah) Kesimpulan yang disebutkan oleh Imam Ibnu Hajar dalam Tuhfahnya mengenai pantat/bokong orang yang berpenyakit bawasir, yaitu bahwa puasanya tidak batal karena ia mengembalikan bawasir itu ke dalam dirinya. Meskipun ia lakukan dengan menggunakan jarinya, karena hal ini darurat.

Dan menurut pendapat yang mu’tamad (kuat) tidak wajib membasuh bekas kotoran yang menempel di bokong tersebut Imam Muhammad Sholeh berfatwa : ada seseorang BAB (buang air besar), kemudian ada sesuatu keluar (umpama bawasir) sampai ke batas dhohir (batas luar dari pantat) kemudian sesuatu yang keluar tersebut kembali ke dalam tanpa sengaja disebabkan karena sesuatu itu kering dan tidak mungkin bisa diputuskannya, maka puasanya tidak batal, hal disamakan (qiaskan) dengan kejadian di atas tersebut. 

Hukum Mencium Wewangian dan Bau-bauan yang lainnya Saat Puasa

D.    Hukum Mencium Wewangian dan Bau-bauan yang lainnya Saat Puasa

(Faedah) : Tidak mengapa (tidak membatalkan puasa) masuknya bau-bauan ke dalam rongga melalui penciuman, begitu juga melalui mulut, misalnya bau-bauan dupa / kemenyan dan lainnya, meskipun sengaja dilakukannya, sebab bau-bauan tersebut bukanlah termasuk benda.

Dan bukan termasuk bau-bauan adalah bau-bauan yang mengandung benda seperti bau pa’an (termasuk rokok), mudah-mudahan Allah melaknat orang yang pertama kali membuatnya – karena benda ini termasuk bid’ah yang jelek, maka batal puasa akibat benda ini masuk ke dalam rongga badan. Imam Ibnu Ziyad dahulu sebelum melihat benda ini, beliau berfatwa tidak batal puasa akibat benda ini masuk ke dalam rongga badan, kemudian beliau memfatwakan batal (Imam Syarqawi).

E.    Telinga Kemasukan Air Apakah Membatalkan Puasa

Telinga Kemasukan Air Apakah Membatalkan PuasaImam Bujairami mengatakan : Andaikata air mandi masuk sampai ke dua lubang telinga dengan mandi dengan cara menyelam, maka (dirinci) :

1. Jika dalam kebiasaannya yang sudah berulang-ulang, jika ia mandi menyelam, maka air akan masuk ke dalam telinganya, maka kondisi seperti ini, puasanya batal.

2. Jika dalam kebiasaannya yang sudah berulang-ulang, jika ia mandi menyelam, maka air tidak akan masuk ke dalam telinganya, maka kondisi seperti ini, (jika air
masuk) maka puasanya tidak batal.

Mandi seperti ini, (hukumnya) tidak ada perbedaan Antara mandi wajib dan mandi sunnah, karena keduanya sama-sama dianjurkan, berbeda mandi untuk tujuan memperoleh rasa dingin atau tujuan kebersihan, sebab mandi seperti ini bukan sesuatu yang dianjurkan.

F.    Masuknya buah-buahan kedalam rongga badan

(Faedah) Imam Syaubari mengatakan : Dikatakan batal puasa seseorang sebab sampainya (masuknya) benda ke dalam rongga adalah apabila selain dari buah-buahan dari surga.
– Mudahan mudahan Allah menjadi kita sebagai penghuni surga -.

Adapun dari buah-buahan dari surga maka tidak batal puasa karena masuk sampai ke dalam rongga. Andaikata ada melihat seorang yang berpuasa, kemudian dia ingin minum (umpamanya), maka (dirinci) :
1. Jika orang tersebut terlihat sebagai orang yang bertakwa serta tidak melakukan hal-hal yang diharamkan, maka menegurnya lebih utama (dari pada mendiamkannya
untuk minum),
2. Jika orang tersebut terlihat sebagai orang yang tidak bertakwa serta suka melakukan hal-hal yang diharamkan, maka menegurnya hukumnya wajib, Hal ini dinyatakan oleh Imam Alhabaniy. Dinukil dari Majmu’ah Baziro’ah resume fatwa-fatwa Ibnu Hajar.

G.    Sahur Pas Adzan Subuh

(Fatwa Al Allamah Syarif Alwi bin Seggaf Aljurfry) Ada seseorang yang minum air
setelah adzan subuh dikumandang oleh muadzin, dimana ia menduga si muadzin keliru, maka puasanya tidak batal, sebab (dalam qedah fiqh) secara hukum asal adalah masih adanya malam hari, serta paling banter bahwa si muadzin tersebut dia hanya berijtihad (dengan mengumandakan adzan tersebut) dan tidak wajib untuk mengikuti adzan si muadzin tersebut,

Akan tetapi jika seorang yang minum air tersebut, diberi kabar oleh seorang yang adil, bahwa fajar memang sudah terbit dan ia menyaksikannya, maka wajib untuk mengikuti ucapan orang adil ini dengan syarat ucapannya ini tidak bertentangan dengan dugaannya yang kuat atau lebih kuat (dari ucapan orang adil tersebut).
\
Hukum Puasa Orang Sakit

H.    Hukum Puasa Orang Sakit dan Qadha Puasa bagi Orang yang Sakit


(Fatwa Imam Al Allamah Abdullah bin Alhusein bin Abdullah Bafaqih)
Sakit yang tidak diharapkan kesembuhannya, yang dapat membolehkan untuk tidak berpuasa adalah umum untuk semua penyakit secara mutlak (tanpa ada syarat).

Akan tetapi, terkadang macam-macam sakit berbeda menurut hubungannya dengan hukum, umpamanya orang yang terkena stroke sebelah badan, sedangkan ia masih bisa puasa namun tidak mampu untuk berdiri dalam shalat, sakit yang membuat ia tidak bisa melakukan puasa namun ia masih bisa untuk shalat berdiri, maka ia wajib untuk tetap melakukan yang masih bisa ia lakukan. Dan semua sakit tersebut tidak bisa ditetapkan kecuali orang dokter.

Akan tetapi, jika dalam kebiasaan secara mutawatir2 atau pengalaman orang terdahulu, sudah ditetapkan, bahwa sakit seperti ini tidak bisa diharapkan kesembuhannya lagi, seperti penyakit paru-paru (TBC), cacar ganas, stroke sebelah badan, maka disesuaikan dengan kebiasaan tersebut meskipun bisa sembuh setelahnya. Terkadang juga penyakit yang menakutkan namun bisa diharapkan kesembuhannya seperti demam menggigil, demam yang selang hari saja, ada juga sakit sebaliknya (tidak menakutkan tapi tidak harapkan kesembuhannya) seperti penyakit paru-paru dan ada juga keduanya (menakutkan dan tidak harapkan kesembuhannya) seperti cacar ganas, maka hukumnya tidak mesti sama,

Dan apa ia sudah terkena kewajiban untuk membayar satu mud, maka tidak wajib untuk segera mengeluarkannya, hal ini sebagaimana yang ditegaskan oleh Ibnu Hajar dalam Al Ittihaf.

Ibnu Hajar (dalam Tuhfahnya) mengatakan : Pembayaran satu mud tersebut tidak menjadi tangunggan (hutang) orang yang tidak mampu puasa di saat itu. Sedangkan Imam Ramli dan Imam Al Khatib Syaribini mengatakan : Pembayaran satu mud tersebut tetap menjadi tangunggannya saat itu, dan jika setelahnya ia mampu untuk berpuasa maka tanggunan tersebut tidak wajib lagi baginya.

Dan wajib berniat dalam mengeluarkan pembayaran mud tersebut kepada orang yang dibayarkan mud, meskipun atas nama orang yang sudah meninggal.

(Masalah) Sakit yang membolehkan untuk tidak berpuasa di bulan Ramadhan ada dua macam :

1. Sakit yang masih bisa diharapkan kesembuhannya, maka kewajibannya adalah mengqodho (puasanya) jika memungkinkan, seperti musafir dan wanita hamil. Dan jika tidak memungkinkan untuk mengqodho, maka tidak ada kewajiban qodho dan bayar fidyah.

Sakit yang masih bisa diharapkan kesembuhannya sebagaimana yang teresbut di kitab Nihayah adalah setiap sakit yang tidak mampu untuk melakukan puasa wajib, baik puasa Ramadhan ataupun puasa lainnnya, disebabkan oleh tua renta, atau sakit yangkronis

2. Sakit yang tidak bisa lagi diharapkan kesembuhannya atau sesuatu yang sangat berat menyertai sakit. Imam Syabramalisyi mengatakan : Dalam hal ini tidak dijelaskan mengenai sesuatu yang sangat berat menyertai sakit tersebut, maka menurut qias dalam sakit yang lewat yaitu sesuatu hal yang berat yang dapat membolehkan seseorang untuk bertayammum.

Maka orang seperti ini, ia wajib membayar fidyah dipermulaan, tidak wajib puasa, oleh kerenanya andaikata setelahnya ia mampu untuk melakukan puasa, maka ia tidak wajib puasa, bahkan tidak sah, hal ini sebagaimana dinyatakan oleh Imam Abu Makhramah.

Akan tetapi jika memaksakan diri di saat ia melakukan puasa hal tersebut mencukupi (sah puasanya).

Dalam syarah Imam Syabramilisyi pada ucapan Imam Ramli : Siapa yang tidak berkesempatan melakukan puasa Ramadhan atau puasa (wajib) lainnya, kemudian ia meninggal sebelum sempat ada kemungkinan untuk melakukan (qodho annya) maka tidak perlu untuk dibayar dan diqodho. Pernyataan ini berbeda dengan keterangan yang akan datang, yaitu bahwa siap yang tidak berpuasa karena sakit yang tidak dapat diharapkan kesembuhannya, atau karena sakit kronis, maka ia wajib membayar satu mud (perhari). (Agar tidak bertentangan, maka pernyataan ini dapat dikatakan) bahwa keterangan yang akan datang itu adalah terhadap orang yang tidak bisa diharapkan lagi kesembuhannya, sedangkan masalah ini berbeda.

Dalam kitab Bujairami syarah Iqna’ : maksud ucapan penulis Iqna’ “sakit yang terus
menerus” yaitu sakit yang masih bisa diharapkan kesembuhannya sampai ia wafat, maka ia tidak wajib bayar fidyah, Maka dalam hal ini, tidak terjadi pertentangan mengenai masalah ini dan masalah yang akan datang, yaitu bahwa orang yang sakit ia boleh berbukt dan memberi makan perhari satu mud adalah orang yang sakit, yang tidak bisa diharapkan lagi kesembuhannya, maka berarti ia orang ini dipermulaan (secara langsung) ia diperintahkan untuk membayar fidyah, sedangkan orang yang sakit di atas (yaitu orang yang sakit, yang masih bisa diharapkan lagi kesembuhannya), maka ia diperintahkan dipermulaan (secara langsung) untuk melakukan puasa, sedangkan ia dibolehkan untuk tidak berpuasa karena ia tidak mampu untuk melakukan puasa, maka apabila ia meninggal duani sebelum ia mampu untuk melakukannya, maka tidak perlu untuk membayar fidyah puasanya.

Jika engkau perhatikan dengan seksama keterangan tersebut di atas, maka engkau dapat mengetahui, bahwa jika ada seseorang mengalami sakit ringan di bulan Ramadhan, kemudian sakit itu bertambah menjadi berat sehingga tidak bisa diharapkan lagi kesembuhannya, lantas setelah itu ia meninggal dunia di bulan Ramadhan atau setelah Ramadhan, dan sebelum ia mampu untuk mengqodhonya, maka wajib membayar fidyah yang dikeluarkan dari harta peninggalannya untuk di harihari sakit yang tidak bisa diharapkan kesembuhanya saja, tidak di hari-hari sakit
yang bisa diharapkan kesembuhanya, dengan alasan ia tidak memiliki kesempatan/kemampuan membayar qodhonya.

I.    Dalil Puasa Bagi Pekerja Berat

Dalil Puasa Bagi Pekerja Berat 
(Masalah) : Tidak dibolehkan untuk tidak berpuasa bagi sejenis pengetam (tukang ketam), pemanen kurma, pembajak tanah, kecuali jika syarat-syaratnya terpenuhi. Syarat-syarat tersebut sebagaimana diketahui dari ucapan pada ulama ada enam:
1. Pekerjaan tersebut tidak bisa diakhirkan di bulan Syawwal
2. Pekerjaan tersebut tidak bisa dilakukan malam hari
3. Pekerjaan tersebut jika dilakukan malam hari dapat membuat panen menjadi rusak atau mengurangi harga yang sangat rendah
4. Berpuasa pada saat melakukan pekerjaan tersebut sangat berat yang secara kebiasaan tidak bisa dilakukan, yaitu dapat membuat memperbolehkan bertayammum atau dudukdi shalat fardhu, syarat seperti berbeda dengan Imam Ibnu Hajar.

5. Di malam hari ia tetap berniat puasa, dan di pagi ia berpuasa serta ia tidak berbuka kecuali setelah ada udzur (alasan)
6. Ia berniat melakukan keringanan berbuka agar supaya dibedakan Antara berbuka yang boleh dan berbuka yang tidak boleh. Sebagaimana halnya orang yang sakit, yang ingin berbuka lantaran sakit, maka ia juga wajib untuk berniat melakukan keringanan berbuka.

Ia tidak dibolehkan untuk melakukan pekerjaan berat tersebut dan memaksakan dirinya untuk tujuan sematamata mendapatkan keringanan tidak berpuasa, maka jika
demikian ia tidak dibolehkan, seperti seorang musafir yang bertujuan / berniat dengan safarnya hanya untuk mendapatkan keringanan tidak berpuasa.

Maka, jika syarat-syarat tersebut terpenuhi, dibolehkan lah untuk berbuka, baik untuk dirinya sendiri atau pun orang lain, meskipun dia bukan orang satu-satunya yang bisa melakukan pekerjaan itu dan masih terdapat orang lain.

Dan jika salah satu syaratnya tidak terpenuhi, maka (dengan ia tidak berpuasa) ia akan mendapatkan dosa yang sangat besar, orang seperti ini wajib dilarang dan diberi hukum ta’zir, karena ada hadits yang berbunyi : “Siapa yang tidak berpuasa satu hari dari bulan Ramadhan tanpa ada udzur (alasan), maka puasa setahunan itu tidak akan mencukupi satu hari tersebut.”

J.    Makanan yang Afdhol untuk Berbuka Puasa

(Faedah) Bagi orang yang tidak bisa berbuka dengan menyantap kurma, disunnahkan untuk menyantap/minum air, air zam zam lebih utama, kemudian makan manis yang tidak tersentuh api, seperti kismis, madu, susu. Dan susu lebih utama dari madu, sedangkan daging lebih utama dari susu dan madu, kemudian makan manis yang diolah menggunakan api, oleh karenanya sebagian ulama mengatakannya (Bahar Thowil)

Hendaknya engkau berbuka dengan memulai makan kurma matang (sebelum jadi tamar), kemudian kurma belum matang, kemudian kurma tamar, kemudian air Zam Zam, kemudian air biasa, kemudian makanan manis asli, kemudian makanan manis diolah dengan api ‘Hasyiyah Bajuri”

Mengenai hadist : “Siapa yang membukakan orang yang berpuasa, maka ia akan memperoleh pahala seperti orang yang berpuasa tersebut”
.
Abdurrahman Alkhayary mengatakan : Apakah yang dimaksud :
1. jika yang berpuasa itu memang memiliki pahala atau
2. secara mutlak (tidak harus yang berpuasa itu memiliki pahala) sehingga andaikata pahala orang yang puasa tersebut batal karena adanya suatu hal yang terjadi, apakah yang membukakan puasa masih memperoleh pahala dengan diumpakan bahwa orang berpuasa itu memiliki pahala, Maka dalam hal ini Imam Ibnu Hajar bersikap ragu-ragu, sedangkan secara dhohir adalah cendrung kepada pendapat yang kedua (yang membukakan puasa tetap mendapatkan pahala puasa, meskipun yang berbuka tersebut pahala puasanya batal).

K.    Malam Lailatul Qadar

(Faedah) Salah seorang ulama menyebutkan mengenai batas-batas untuk (mengetahui) Lailatul Qadr, menurut pendapat yang menyatakan bahwa malam tersebut berpindah-pindah (tidak menetap satu malam saja) Imam Abdul Mu’thi atau Imam Qolyubi menyatakannya dalam bentuk nadzhom/qosidah:
(Bahar Razaj)
"Wahai orang yang bertanya kepadaku mengenai malam Lalilatul Qadr, yang datang di sepuluh akhir Ramadhan Sesungguh malam itu ada di malam-malam sepuluh akhir, yang dapat diketahui dari hari permulaan bulan Ramadhan Maka jika permulaan Ramadhan di hari Ahad dan Rabu, malam Lailatul Qadr adalah malam ke dua puluh sembilan, sedangkan jika hari Jumat dan Selasa, maka malam ke dua puluh tujuh Jika hari Kamis maka malam ke dua puluh lima, sedangkan jika hari Sabtu maka malam ke dua puluh tiga Dan jika hari Senin maka di malam dua puluh satu, semua keterangan ini bersumber dari para ulama sufi yang ahli zuhud"

Ucapan dzhohir Imam Bajuri menurut pendapat ini adalah bahwa malam Lailatul Qadr adalah malam Jumat yang ada di malam-malam ganjil setelah setengah bulan yang pertama.

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semuanya. Amien ya rabbal alamien.
Buat lebih berguna, kongsi:
close