photo lineviral_1.png

Pengertian dan Konsep Gender

Kita sangat sering mendengar ataupun membaca tentang istilah gender. namun tahukan anda arti sebenarnya dari gender tersebut? Baiklah, kali ini kita akan membahas tentag pengertian gender, konsep gender dan kesetaraan gender. Semoga artikel ini bermanfaat bagi kita semua.

Pengertian dan Konsep Gender


Istilah gender diperkenalkan oleh para ilmuwan sosial untuk menjelaskan perbedaan wanita dan pria yang bersifat bawaan sebagai ciptaan Yang Mahakuasa dan yang bersifat bentukan budaya yang dipelajari dan disosialisasikan semenjak kecil. Pembedaan ini sangat penting, lantaran selama ini sering sekali mencampur adukan ciri-ciri insan yang bersifat kodrati dan yang bersifat bukan kodrati (gender). Perbedaan kiprah gender ini sangat membantu kita untuk memikirkan kembali wacana pembagian kiprah yang selama ini dianggap telah menempel pada insan wanita dan pria untuk membangun citra kekerabatan gender yang dinamis dan sempurna serta cocok dengan kenyataan yang ada dalam masyarakat. Perbedaan konsep gender secara sosial telah melahirkan perbedaan kiprah wanita dan pria dalam masyarakatnya. Secara umum adanya gender telah melahirkan perbedaan peran, tanggung jawab, fungsi dan bahkan ruang daerah dimana insan beraktivitas. Sedemikian rupanya perbedaan gender ini menempel pada cara pandang kita, sehingga kita sering lupa seolah-olah hal itu merupakan sesuatu yang permanen dan baka sebagaimana permanen dan abadinya ciri biologis yang dimiliki oleh wanita dan laki-laki.

Kata “gender‟ mampu diartikan sebagai perbedaan peran, fungsi, status dan tanggungjawab pada pria dan wanita sebagai hasil dari bentukan (konstruksi) sosial budaya yang tertanam lewat proses sosialisasi dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dengan demikian gender yaitu hasil kesepakatan antar insan yang tidak bersifat kodrati. Oleh karenanya gender bervariasi dari satu daerah ke daerah lain dan dari satu waktu ke waktu berikutnya. Gender tidak bersifat kodrati, mampu berubah dan mampu dipertukarkan pada insan satu ke insan lainnya tergantung waktu dan budaya setempat.

Pengertian gender berdasarkan para ahli


1. “Gender yaitu perbedaan antara pria dan wanita dalam peran, fungsi, hak, tanggung jawab, dan sikap yang dibuat oleh tata nilai sosial, budaya dan budpekerti istiadat dari kelompok masyarakat yang mampu berubah berdasarkan waktu serta kondisi setempat. Tanggung jawab dan sikap yang dibuat oleh tata nilai sosial, budaya dan budpekerti istiadat dari kelompok masyarakat yang mampu berubah berdasarkan waktu serta kondisi setempat.

2. “Gender refers to the economic, social, political, and cultural attributes and opportunities associated with being female and male. The social definitions of what it means to be female or male vary among cultures and changes over time.”

(gender merujuk pada atribut ekonomi, sosial, politik dan budaya serta kesempatan yang dikaitkan dengan menjadi seorang wanita dan laki-laki. Definisi sosial wacana bagaimana artinya menjadi wanita dan pria bermacam-macam berdasarkan budaya dan berubah sepanjang jaman).

3. “Gender should be conceptualized as a set of relations, existing in social institutions and reproduced in interpersonal interaction“ (Smith 1987; West & Zimmerman 1987 dalam Lloyd et al. 2009: p.8) (gender diartikan sebagai suatu set korelasi yang faktual di institusi sosial dan dihasilkan kembali dari interaksi antar personal).

4. “Gender is not a property of individuals but an ongoing interaction between actors and structures with tremendous variation across men‟s and women‟s lives “individually over the life course and structurally in the historical context of race and class” (Ferree 1990 dalam Lloyd et al. 2009: p.8)

(Gender bukan merupakan property individual namun merupakan interaksi yang sedang berlangsung antar bintang film dan struktur dengan variasi yang sangat besar antara kehidupan pria dan wanita „secara individual‟ sepanjang siklus hidupnya dan secara struktural dalam sejarah ras dan kelas).

5. “At the ideological level, gender is performatively produced” (Butler 1990 dalam Lloyd et al. 2009: p.8) (Pada tingkat ideologi, gender dihasilkan).

6. “Gender is not a noun- a „being‟–but a „doing‟. Gender is created and reinforced discursively, through talk and behavior, where individuals claim a gender identity and reveal it to others” (West & Zimmerman 1987 dalam Lloyd et al. 2009: p.8)

(Gender bukan sebagai suatu kata benda “menjadi seseorang‟, namun suatu “perlakuan‟. Gender diciptakan dan diperkuat melalui diskusi dan perilaku, dimana individu menyatakan suatu identitas gender dan mengumumkan pada yang lainnya).

7. “Gender theory is a social constructionist perspective that simultaneously examines the ideological and the material levels of analysis” (Smith 1987 dalam Lloyd et al. 2009: p.8)

(Teori gender merupakan suatu pandangan wacana konstruksi sosial yang sekaligus mengetahui ideologi dan tingkatan analisis material).

Dengan demikian gender menyangkut hukum sosial yang berkaitan dengan jenis kelamin insan pria dan perempuan. Perbedaan biologis dalam hal alat reproduksi antara pria dan wanita memang membawa konsekuensi fungsi reproduksi yang berbeda (perempuan mengalami menstruasi, hamil, melahirkan dan menyusui; pria membuahi dengan spermatozoa). Jenis kelamin biologis inilah merupakan ciptaan Tuhan, bersifat kodrat, tidak mampu berubah, tidak mampu dipertukarkan dan berlaku sepanjang zaman.

Namun demikian, kebudayaan yang dimotori oleh budaya patriarki menafsirkan perbedaan biologis ini menjadi indikator kepantasan dalam berperilaku yang kesudahannya berujung pada pembatasan hak, akses, partisipasi, kontrol dan menikmati manfaat dari sumberdaya dan informasi. Akhirnya tuntutan peran, tugas, kedudukan dan kewajiban yang pantas dilakukan oleh pria atau wanita dan yang tidak pantas dilakukan oleh pria atau wanita sangat bervariasi dari masyarakat satu ke masyarakat lainnya. Ada sebagian masyarakat yang sangat kaku membatasi kiprah yang pantas dilakukan baik oleh pria maupun perempuan, contohnya tabu bagi seorang pria masuk ke dapur atau mengendong anaknya di depan umum dan tabu bagi seorang wanita untuk sering keluar rumah untuk bekerja. Namun demikian, ada juga sebagian masyarakat yang fleksibel dalam memperbolehkan pria dan wanita melaksanakan acara sehari-hari, contohnya wanita diperbolehkan bekerja sebagai kuli bangunan hingga naik ke atap rumah atau memanjat pohon kelapa, sedangkan pria sebagian besar menyabung ayam untuk berjudi.

Perbedaan Konsep Gender dan Jenis Kelamin


Pengertian gender itu berbeda dengan pengertian jenis kelamin (sex). Tabel berikut ini menyajikan perbedaan konsep gender dan jenis kelamin dan perbedaan konsep kodrati dan bukan kodrati.

Tabel Perbedaan konsep jenis kelamin (sex)/ kodrati dan gender/ bukan kodrat beserta contoh-contohnya.



Jenis Kelamin (Seks) Contoh Kodrati Gender Contoh Bukan Kodrati
Peran reproduksi kesehatan berlaku sepanjang masa Peran sosial bergantung pada waktu dan keadaan
Peran reproduksi kesehatan ditentukan oleh Tuhan atau kodrat Peran sosial bukan kodrat Tuhan tapi buatan manusia
Menyangkut perbedaan organ biologis laki-laki dan perempuan khususnya pada bagian alat-alat reproduksi. Sebagai konsekuensi dari fungsi alat-alat reproduksi, maka perempuan mempunyai fungsi reproduksi seperti menstruasi, hamil, melahirkan dan menyusui; sedangkan laki-laki mempunyai fungsi membuahi (spermatozoid) Menyangkut perbedaan peran, fungsi, dan tanggungjawab laki-laki dan perempuan sebagai hasil kesepakatan atau hasil bentukan dari masyarakat. Sebagai konsekuensi dari hasil kesepakatan masyarakat, maka pembagian peran laki-laki adalah mencari nafkah dan bekerja di sektor publik, sedangkan peran perempuan di sektor domestik dan bertanggung jawab masalah rumahtangga.
Peran reproduksi tidak dapat berubah; sekali menjadi perempuan dan mempunyai rahim, maka selamanya akan menjadi perempuan; sebaliknya sekali menjadi laki-laki, mempunyai penis, maka selamanya menjadi laki-laki. Peran sosial dapat berubah: Peran istri sebagai ibu rumahtangga dapat berubah menjadi pekerja/ pencari nafkah, disamping masih menjadi istri juga.
Peran reproduksi tidak dapat dipertukarkan: tidak mungkin peran laki-laki melahirkan dan perempuan membuahi. Peran sosial dapat dipertukarkan Untuk saat-saat tertentu, bisa saja suami dalam keadaan menganggur tidak mempunyai pekerjaan sehingga tinggal di rumah mengurus rumahtangga, sementara istri bertukar peran untuk bekerja mencari nafkah bahkan sampai ke luar negeri menjadi Tenaga Kerja Wanita
Membuahi Bekerja di dalam rumah dan dibayar (pekerjaan publik/produktif di dalam rumah) seperti jualan masakan, pelayanan kesehatan, membuka salon kecantikan, menjahit/ tailor, mencuci pakaian/loundry, mengasuh dan mendidik anak orang lain (babbysitter/ pre-school).
Menstruasi Bekerja di luar rumah dan dibayar (pekerjaan publik di luar rumah).
Mengandung/ hamil Bekerja di dalam rumah dan tidak dibayar (pekerjaan domestik rumahtangga) seperti memasak, menyapu halanam, membersihkan rumah, mencuci pakaian keluarga, menjahit pakaian keluarga.
Melahirkan anak bagi Perempuan Bekerja di luar rumah dan tidak dibayar (kegiatan sosial kemasyarakatan) bagi laki-laki dan perempuan.
Menyusui anak/ bayi dengan payudaranya bagi Perempuan Mengasuh anak kandung, memandikan, mendidik, membacakan buku cerita, menemani tidur. Menyusui anak bayi dengan menggunakan botol bagi laki-laki atau perempuan.
Sakit prostat untuk Laki-laki Mengangkat beban, memindahkan barang, membetulkan perabot dapur, memperbaiki listrik dan lampu, memanjat pohon/ pagar bagi laki-laki atau perempuan.
Sakit kanker rahim untuk Perempuan Menempuh pendidikan tinggi, menjadi pejabat publik, menjadi dokter, menjadi tentara militer, menjadi koki, menjadi guru TK/SD, memilih program studi SMK-Tehnik Industri, memilih program studi memasak dan merias bagi laki-laki atau perempuan.

Konsep gender menjadi kasus yang menimbulkan pro dan kontra baik di kalangan masyarakat, akademisi, maupun pemerintahan semenjak dahulu dan bahkan hingga sekarang. Pada umumnya sebagian masyarakat merasa terancam dan terusik pada ketika mendengar kata ‟gender‟. Berdasarkan diskusi dengan aneka macam kalangan, keengganan masyarakat untuk mendapatkan konsep gender disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut:

1. Konsep gender berasal dari negara-negara Barat, sehingga sebagian masyarakat menganggap bahwa gender merupakan propaganda nilai-nilai Barat yang sengaja disebarkan untuk merubah tatanan masyarakat khususnya di Timur.

2. Konsep gender merupakan gerakan yang membahayakan lantaran mampu memutarbalikkan anutan agama dan budaya, lantaran konsep gender berlawanan dengan kodrati manusia.

3. Konsep gender berasal dari adanya kemarahan dan kefrustrasian kaum wanita untuk menuntut haknya sehingga menyamai kedudukan laki-laki. Hal ini dikarenakan kaum wanita merasa dirampas haknya oleh kaum laki-laki. Di Indonesia tidak ada kasus gender lantaran negara sudah menjamin seluruh warga negara untuk memiliki hak yang sama sesuai dengan yang tercantum pada Undang-Undang Dasar 1945.

4. Adanya mind-set yang sangat kaku dan konservatif di sebagian masyarakat, yaitu mind set wacana pembagian kiprah antara pria dan wanita yaitu sudah ditakdirkan dan tidak perlu untuk dirubah (misalnya kodrati wanita yaitu mengasuh anak, kodrati pria mencari nafkah). Namun mind-set ini tampaknya masih terus berlaku meskipun mengabaikan fakta bahwa semakin banyak wanita Indonesia menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW) ke luar negeri dan mengambil alih kiprah suami sebagai pencari nafkah utama.


Sejarah Pergerakan Feminisme

Gerakan feminisme merupakan gerakan konflik sosial yang dimotori oleh para penggagas feminisme dengan tujuan mendobrak nilai-nilai usang (patriarkhi) yang selalu dilindungi oleh kokohnya tradisi struktural fungsional. Gerakan feminism modern di Barat dimulai pada Tahun 1960-an yaitu pada ketika timbulnya kesadaran wanita secara kolektif sebagai golongan tertindas (Skolnick 1987; Porter 1987). Menurut Skolnick: Some feminists denounced the family as a trap that turned women into slaves (beberapa feminis menuduh keluarga sebagai perangkap yang menciptakan para wanita menjadi budak-budak). Gerakan feminisme yang berdasarkan model konflik berubah menjadi gerakan-gerakan feminisme liberal, radikal, dan sosialis atau Marxisme (Anderson 1983).

Berdasarkan aneka macam literatur mampu disimpulkan bahwa filsafat feminism sangat tidak baiklah dengan budaya patriarkhi. Budaya patriarki yang berawal dari keluargalah yang menjadi penyebab adanya ketimpangan gender di tingkat keluarga yang kemudian menjadikan ketimpangan gender di tingkat masyarakat. Laki-laki yang sangat diberi hak istimewa oleh budaya patriarki menjadi sentral dari kekuasaan di tingkat keluarga. Hal inilah yang menjadikan ketidaksetaraan dan ketidakadilan bagi kaum wanita dalam kepemilikian properti, jalan masuk dan kontrol terhadap sumberdaya dan kesudahannya kurang menawarkan manfaat secara utuh bagi keberadaan perempuan.

Penghapusan sistem patriarki atau struktur vertikal yaitu tujuan utama dari semua gerakan feminisme, lantaran sistem ini yang dilegitimasi oleh model struktural-fungsionalis, menawarkan laba pria daripada perempuan. Kesetaraan gender tidak akan pernah dicapai kalau sistem patriarkat ini masih terus berlaku. Oleh lantaran itu, ciri khas dari gerakan feminisme yaitu ingin menghilangkan institusi keluarga, atau paling tidak mengadakan defungsionalisasi keluarga, atau mengurangi kiprah institusi keluarga dalam kehidupan masyarakat (Megawangi 1999). Untuk memahami konsep feminisme berikut diuraikan berdasarkan sejarah berkembangnya gerakan feminisme yang meliputi dua gelombang:

1. Gerakan Gelombang Pertama lebih pada gerakan filsafat di Eropa yang dipelopori oleh Lady Mary Wortley Montagu dan Marquis de Condorcet yang pada Tahun 1785, suatu perkumpulan masyarakat ilmiah untuk wanita pertama kali didirikan di Middelburg (Selatan Belanda). Seorang penggerak sosialis utopis berjulukan Charles Fourier pada Tahun 1837 memunculkan istilah feminisme yang kemudian tersebar ke seluruh Eropa dan Benua Amerika. Publikasi John Stuart Mill dari Amerika dengan judul The Subjection of Women pada Tahun 1869 yang melahirkan feminisme Gelombang Pertama.

2. Feminisme Gelombang Kedua dimulai pada Tahun 1960, dengan terjadinya liberalisme gaya gres dengan diikutsertakannya wanita dalam hak bunyi di parlemen. Era Tahun 1960 merupakan kala dengan mulai ditandainya generasi “baby boom” (yaitu generasi yang lahir sesudah perang dunia ke-2) menginjak masa remaja simpulan dan mulai masuk masa remaja awal. Pada masa inilah, masa bagi wanita menerima hak pilih dan selanjutnya ikut dalam kancah politik kenegaraan.

Konsep Kesetaraan dan Keadilan Gender

1. Pengertian Kesetaraan Gender dan Keadilan Gender

a. Kesetaraan gender: Kondisi wanita dan pria menikmati status yang setara dan mempunyai kondisi yang sama untuk mewujudkan secara penuh hak-hak asasi dan potensinya bagi pembangunan di segala bidang kehidupan. Definisi dari USAID menyebutkan bahwa “Gender Equality permits women and men equal enjoyment of human rights, socially valued goods, opportunities, resources and the benefits from development results.3.5 (kesetaraan gender memberi kesempatan baik pada wanita maupun pria untuk secara setara/sama/sebanding menikmati hak-haknya sebagai manusia, secara sosial mempunyai benda-benda, kesempatan, sumberdaya dan menikmati manfaat dari hasil pembangunan).

b. Keadilan gender: Suatu kondisi adil untuk wanita dan pria melalui proses budaya dan kebijakan yang menghilangkan hambatan-hambatan berperan bagi wanita dan laki-laki. Definisi dari USAID menyebutkan bahwa “Gender Equity is the process of being fair to women and men. To ensure fairness, measures must be available to compensate for historical and social disadvantages that prevent women and men from operating on a level playing field. Gender equity strategies are used to eventually gain gender equality. Equity is the means; equality is the result. (Keadilan gender merupakan suatu proses untuk menjadi fair baik pada wanita maupun laki-laki. Untuk memastikan adanya fair, harus tersedia suatu ukuran untuk mengompensasi kerugian secara histori maupun sosial yang mencegah wanita dan pria dari berlakunya suatu tahapan permainan. Strategi keadilan gender pada alhasil dipakai untuk meningkatkan kesetaraan gender. Keadilan merupakan cara, kesetaraan ialah hasilnya).

2. Wujud Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam keluarga

a. Akses diartikan sebagai “the capacity to use the resources necessary to be a fully active and productive (socially, economically and politically) participant in society, including access to resources, services, labor and employment, information and benefits”. (Kapasitas untuk menggunakan sumberdaya untuk sepenuhnya berpartisipasi secara aktif dan produktif (secara sosial, ekonomi dan politik) dalam masyarakat termasuk susukan ke sumberdaya, pelayanan, tenaga kerja dan pekerjaan, gosip dan manfaat). Contoh: Memberi kesempatan yang sama bagi anak wanita dan pria untuk melanjutkan sekolah sesuai dengan minat dan kemampuannya, dengan perkiraan sumberdaya keluarga mencukupi.

b. Partisipasi diartikan sebagai “Who does what?” (Siapa melaksanakan apa?). Suami dan istri berpartisipasi yang sama dalam proses pengambilan keputusan atas penggunaan sumberdaya keluarga secara demokratis dan jikalau perlu melibatkan belum dewasa baik pria maupun perempuan.

c. Kontrol diartikan sebagai ”Who has what?” (Siapa punya apa?). Perempuan dan pria mempunyai kontrol yang sama dalam penggunaan sumberdaya keluarga. Suami dan istri sanggup mempunyai properti atas nama keluarga.

d. Manfaat. Semua acara keluarga harus mempunyai manfaat yang sama bagi seluruh anggota keluarga.

Teori Gender atau Aliran Feminisme

Secara garis besar, anutan aliran feminisme terbagi dalam 2 (dua) kluster yaitu kluster yang merubah nature (kodrati) perempuan, dan yang melestarikan nature perempuan. Kluster merubah nature wanita terdiri atas aliran-aliran Feminisme Eksistensialisme, Feminisme Liberal, Feminisme Sosialis/ Marxis dan Teologi Feminis. Adapun kluster melestarikan nature wanita terdiri atas aliran-aliran Feminisme Radikal dan Ekofeminisme (Megawangi 1999).
Gambar Aliran-aliran feminisme


pengertian feminisme


Aliran-aliran feminisme terdiri atas :

1. Perubahan Nature Perempuan
Tujuannya ialah untuk transformasi sosial dengan mengajak wanita masuk ke dunia maskulin. dunia maskulin sanggup direbut apabila para wanita melepaskan kualitas femininnya dan mengadopsi kualitas maskulin.

a. Feminisme Eksistensialisme:
(1) Bergerak pada tataran individu wacana pentingnya sosialisasi androgini (persamaan pengasuhan dan perlakuan antara pria dan perempuan).

(2) Eksistensi diri bukan merupakan kodrati bawaaan, namun dibuat oleh lingkungan sosial (Simone De Beauvoir: The Second Sex 1949).

b. Feminisme Liberal:
(1) Tujuannya ialah transformasi sosial melalui perubahan undang-undang dan aturan semoga wanita sanggup mengubah naturenya sehingga sanggup mencapai kesetaraan dengan laki-laki.

(2) Doktrin John Locke (hak asasi insan untuk hidup, menerima kebebasan dan mencari kebahagiaan).

c. Feminisme Sosialis/ Marxist:
(1) Tujuannya ialah mencapai masyarakat sosialis yang dilakukan mulai dari tingkat keluarga. Apabila sistem egaliter sanggup tercipta dalam keluarga, maka hal ini akan tercermin pula dalam kehidupan sosial keluarga. Keluarga tradisional dikenal sebagai institusi pertama yang melahirkan kapitalisme dengan sistem patriarkinya. Oleh alasannya ialah itu, intitusi keluarga inti harus digantikan dengan keluarga kolektif, termasuk dalam menjalankan fungsi-fungsi keluarga yang didominasi oleh kaum perempuan. Sebagai praksis ialah adanya proses penyadaran kepada para wanita bahwa mereka ialah kelas yang tidak diabaikan. Disamping itu mulai ada propaganda negatif wacana keberadaan keluarga dan wacana status dan tugas ibu sebagai “budak” dan “mengalami alienasi”. Tujuan propaganda ini ialah untuk menggalang emotional yang tinggi pada wanita semoga mendorongnya untuk mengubah keadaan. Kaprikornus pemberdayaan wanita dalam hal ini ialah untuk memperkuat basis material wanita yang mengadopsi kualitas maskulin.

(2) Karl Marx dan Friedrich Engels, memformulasikan kaum wanita yang kedudukannya sebagai kaum proletar pada masyarakat kapitalis Barat.

(3) Tujuannya ialah untuk menghilangkan kelas termasuk institusi keluarga.

d. Teologi Feminis:
(1) Teologi Feminis ialah pendekatan Marxis yang telah dimodifikasi melalui pendekatan agama dengan menggunakan agama untuk membebaskan wanita dari belenggu keluarga dan laki-laki. Ide ini berasal dari pendekatan pria dalam menggunakan agama untuk meligitimasi kekuasaannya. Oleh alasannya ialah itu, kaum wanita mengadopsi pendekatan agama semoga sanggup diubah bukan untuk melgitimasi pihak penguasa tetapi untuk meligitimasi pembebasan golongan tertindas, termasuk kaum perempuan.

(2) Merupakan sebuah praksis yaitu bergerak dalam tataran konseptual dengan mengubah penafsiran dan perubahan hukum-hukum agama.

2. Pelestarian Nature Perempuan
Tujuannya ialah untuk meruntuhkan sistem patriarki, tetapi bukan dengan menghilangkan nature, melainkan dengan menonjolkan kekuatan kualitas feminin. Apabila wanita masuk ke dunia maskulin dengan cara mempertahankan kualitas femininnya, maka dunia sanggup diubah dari struktur hirarkis (patriarkis) menjadi egaliter (matriarkis).

a. Feminisme Radikal:
(1) Berkembang di USA pada kurun 1960an -1970an.

(2) Ketidakadilan gender bersumber pada perbedaan biologis antara pria dan wanita yang hanya sanggup termanifestasi dalam institusi keluarga; Adanya peraturan 1(satu) tahun cuti di Swedia untuk pekerja wanita dan 3-6 bulan untuk pekerja laki-laki.

(3) Lembaga perkawinan ialah forum formalisasi untuk menindas wanita sehingga tujuannya ialah untuk mengakhiri “the tyranny of the biological family”.

(4) Cenderung membenci makhluk pria sebagai individu atau kolektif. Lesbian ialah salah satu pembebasan dari dominasi laki-laki.

b. Ekofeminisme:
(1) Ekofeminisme: gerakan yang ingin mengembalikan kesadaran insan akan pentingnya dihidupkan kembali kualitas feminin dalam masyarakat.

(2) Tidak anti keluarga, melainkan mendukung tugas keibuan, tetapi masih menganggap bahwa sistem patriarkis ialah sistem yang merusak.

(3) Mengkritik para feminis yang menyuruh wanita membuang nature, alasannya ialah dengan semakin banyaknya para wanita yang mengadopsi kualitas maskulin, maka dunia tetap berstruktur maskulin, yaitu identik dengan penindasan.

(4) Sangat peduli dengan kerusakan lingkungan hidup alasannya ialah menghilangnya kualitas pengasuhan dan pemeliharaan (kualitas feminin).

(5) Ekofeminisme mempunyai manifesto yang disebut “A Declaration of Interdependence”.

(6) Mengajak para wanita untuk berdiri melestarikan kualitas feminin semoga dominasi sistem maskulin sanggup diimbangi sehingga kerusakan alam, degradasi akhlak yang semakin mengkhawatirkan sanggup dikurangi.

Dengan demikian sanggup ditarik garis besar, bantu-membantu aliran-aliran feminisme muncul alasannya ialah adanya ketimpangan gender atau gender gap yang berkaitan dengan tugas dan kedudukan pria dan wanita dalam keluarga dan masyarakat. Untuk mencapai pembangunan yang berkeadilan dan berkesetaraan gender (gender equality) dan keadilan gender (gender equity), maka harus ada hubungan gender yang serasi antara pria dan wanita.

Gambar Aliran feminisme, gap dan tujuan pembangunan serta solusi

gender adalah


Pengertian dan Tehnik Analisis Gender

Analisis gender ialah suatu metode atau alat untuk mendeteksi kesenjangan atau disparitas gender melalui penyediaan data dan fakta serta gosip wacana gender yaitu data yang terpilah antara pria dan wanita dalam aspek akses, peran, kontrol dan manfaat. Dengan demikian analisis gender ialah proses menganalisis data dan gosip secara sistematis wacana pria dan wanita untuk mengidentifikasi dan mengungkapkan kedudukan, fungsi, tugas dan tanggung jawab pria dan perempuan, serta faktor-faktor yang mempengaruhi. Syarat utama terlaksananya analisis gender ialah tersedianya data terpilah menurut jenis kelamin. Data terpilah ialah nilai dari variabel variabel yang sudah terpilah antara pria dan wanita menurut topik bahasan/hal-hal yang menjadi perhatian. Data terdiri atas data kuantitatif (nilai variabel yang terukur, biasanya berupa numerik) dan data kualitatif (nilai variabel yang tidak terukur dan sering disebut atribut, biasanya berupa informasi).

Di lain pihak alat analisis sosial yang telah ada mirip analisis kelas, analisis diskursus (discourse analysis) dan analisis kebudayaan yang selama ini dipakai untuk memahami realitas sosial tidak sanggup menangkap realitas adanya kekerabatan kekuasaan yang didasarkan pada kekerabatan gender dan sangat berpotensi menumbuhkan penindasan. Dengan begitu analisis gender bekerjsama menggenapi sekaligus mengkoreksi alat analisis sosial yang ada yang sanggup dipakai untuk meneropong realitas kekerabatan sosial lelaki dan wanita serta akibat-akibat yang ditimbulkannya.

Analisis gender merupakan alat dan tehnik yang sempurna untuk mengetahui apakah ada permasalahan gender atau tidak dengan cara mengetahui disparitas gendernya. Dengan analisis gender diperlukan kesenjangan gender sanggup diindentifikasi dan dianalisis secara sempurna sehingga sanggup ditemukan faktor-faktor penyebabnya serta langkah-langkah pemecahan masalahnya. Analisis gender sangat penting khususnya bagi para pengambil keputusan dan perencanaan serta para peneliti akademisi, alasannya yaitu dengan analisis gender diperlukan duduk perkara gender sanggup diatasi atau dipersempit sehingga acara yang berwawasan gender sanggup diwujudkan. Secara terinci analisis gender sangat penting manfaatnya, karena:

1. Membuka wawasan dalam memahami suatu kesenjangan gender di kawasan pada aneka macam bidang, dengan memakai analisis baik secara kuantitatif maupun kualitatif.

2. Melalui analisis gender yang tepat, diperlukan sanggup memperlihatkan citra secara garis besar atau bahkan secara detil keadaan secara obyektif dan sesuai dengan kebenaran yang ada serta sanggup dimengerti secara universal oleh aneka macam pihak.

3. Analisis gender sanggup menemukan akar permasalahan yang melatarbelakangi duduk perkara kesenjangan gender dan sekaligus sanggup menemukan solusi yang sempurna target sesuai dengan tingkat permasalahannya.

Istilah-istilah yang dipakai dalam Analisis Gender meliputi:
1. Akses yaitu peluang atau kesempatan dalam memperoleh atau memakai sumberdaya tertentu.

2. Peran yaitu keikutsertaan atau partisipasi seseorang/ kelompok dalam suatu kegiatan dan atau dalam pengambilan keputusan.

3. Kontrol yaitu penguasaan atau wewenang atau kekuatan untuk mengambil keputusan.

4. Manfaat yaitu kegunaan sumberdaya yang sanggup dinikmati secara optimal.

5. Indikator yaitu alat ukur berupa statistik yang sanggup memperlihatkan perbandingan, kecenderungan atau perkembangan.

6. Kegiatan produktif yaitu kegiatan yang dilakukan anggota masyarakat dalam rangka mencari nafkah. Kegiatan ini disebut juga kegiatan ekonomi alasannya yaitu kegiatan ini menghasilkan uang secara eksklusif atau barang yang sanggup dinilai setara uang. Contoh kegiatan ini yaitu bekerja menjadi buruh, petani, pengrajin dan sebagainya.

7. Kegiatan reproduktif yaitu kegiatan yang bekerjasama erat dengan pemeliharaan dan pengembangan serta menjamin kelangsungan sumberdaya insan dan biasanya dilakukan dalam keluarga. Kegiatan ini tidak menghasilkan uang secara eksklusif dan biasanya dilakukan bersamaan dengan tanggung jawab domestik atau kemasyarakatan dan dalam beberapa tumpuan disebut reproduksi sosial. Contoh kiprah reproduksi yaitu pemeliharaan dan pengasuhan anak, pemeliharaan rumah, tugas-tugas domestik dan reproduksi tenaga kerja untuk ketika ini dan masa yang akan tiba (misalnya masak, bersih-bersih rumah).

8. Kegiatan kemasyarakatan yang berkaitan dengan politik dan sosial budaya yaitu kegiatan yang dilakukan anggota masyarakat yang bekerjasama dengan bidang politik, sosial dan kemasyarakatan dan meliputi penyediaan dan pemeliharaan sumberdaya yang dipakai oleh setiap orang mirip air bersih/ irigasi, sekolah dan pendidikan, kegiatan pemerintah lokal dan lain-lain. Kegiatan ini bisa menghasilkan uang dan bisa juga tidak menghasilkan uang.

Ada beberapa teknik analisis gender yang sering digunakan, yaitu Model Harvard; Model Moser; Model SWOT (Strength, Weakness, Opportunity and Threat) atau Model Kekuatan, Kelemahan, Kesempatan dan Ancaman; Model GAP (Gender Analysis Pathway) atau Model Analisis Alur Gender; dan Model ProBA (Problem Based Approach) atau Model Pendekatan Berbasis Masalah. Dalam buku ini analisis gender yang dibahas hanya dibatasi pada Model Harvard dan Model Moser saja alasannya yaitu kedua model ini sempurna dipakai untuk analisis kesenjangan gender di tingkat individu dan keluarga.

Teknik Analisis Gender Model Harvard

Analisis Model Harvard atau Kerangka Analisis Harvard, dikembangkan oleh Harvard Institute for International Development, bekerja sama dengan Kantor Women In Development (WID)-USAID. Model Harvard ini didasarkan pada pendekatan efisiensi WID yang merupakan kerangka analisis gender dan perencanaan gender yang paling awal. Tujuan kerangka Harvard yaitu untuk: (1) Menunjukkan bahwa ada suatu investasi secara ekonomi yang dilakukan oleh wanita maupun laki-laki, secara rasional, (2) Membantu para perencana merancang proyek yang lebih efisien dan memperbaiki produktivitas kerja secara menyeluruh, (3) Mencari informasi yang lebih rinci sebagai dasar untuk mencapai tujuan efisiensi dengan tingkat keadilan gender yang optimal, (4) Memetakan pekerjaan pria dan wanita dalam masyarakat dan melihat faktor penyebab perbedaan.

Penggunaan kerangka analisis Harvard lebih cocok untuk perencanaan proyek dibandingkan dengan perencanaan acara atau kebijakan. Kerangka ini juga sanggup dipakai sebagai titik masuk (entry point) gender netral dan dipakai bersamaan dengan kerangka Analisis Moser untuk mencari gagasan dalam memilih kebutuhan strategik gender. Kerangka Harvard pada mulanya diuraikan di dalam Overholt, Anderson, Cloud and Austin, Gender Roles in Development Projects: A Case Book, 1984, Kumarian Press: Connecticut. Kerangka ini terdiri atas sebuah matriks yang mengumpulkan data pada tingkat mikro (masyarakat dan rumahtangga), meliputi empat komponen yang bekerjasama satu dengan lainnya.

Secara garis besar kerangka Harvard sanggup disimpulkan sebagai berikut:
1. Tujuan/ Asumsi adalah: (a) Menunjukkan investasi dan bantuan ekonomi gender, (b) Membantu perencanaan proyek yang efisien dan efektif, (c) Mencari informasi rinci (efisiensi proyek dan pencapaian keadilan dan kesetaraan gender) dan (d) Memetakan kiprah wanita dan pria di tingkat masyarakat beserta faktor pembeda.

2. Komponen/ Langkah meliputi analisis profil kegiatan 3 (tiga) kiprah atau triple roles (terdiri atas kiprah publik dengan kegiatan produktifnya, kiprah domestik dengan kegiatan reproduktifnya dan kiprah kemasyarakatan dengan kegiatan sosial budayanya), profil saluran dan kontrol dan faktor yang mensugesti kegiatan saluran dan kontrol.

Teknik Analisis Gender Model Moser

Teknik analisis model Moser atau Kerangka Moser dikembangkan oleh Caroline Moser (Moser 1993) seorang peneliti senior dalam perencanaan gender. Kerangka ini didasarkan pada pendekatan Pembangunan dan Gender (Gender and Development/ GAD) yang dibangun pada pendekatan Perempuan dalam Pembangunan (Women in Development/ WID). Kerangka ini kadang kala diacu sebagai ”Model Tiga Peranan (Triple Roles Models). Adapun tujuan dari kerangka anutan perencanaan gender dari Moser adalah: (1) Mempengaruhi kemampuan wanita untuk berpartisipasi dalam intervensi-intervensi yang telah direncanakan, (2) Membantu perencanaan untuk memahami bahwa kebutuhan-kebutuhan wanita yaitu seringkali berbeda dengan kebutuhan-kebutuhan laki-laki, (3) Mencapai kesetaraan gender dan pemberdayaan melalui pinjaman perhatian kepada kebutuhan-kebutuhan mudah wanita dan kebutuhan-kebutuhan gender strategis, (4) Memeriksa dinamika saluran kepada dan kontrol pada penggunaan sumber-sumberdaya antara wanita dan pria dalam aneka macam konteks ekonomi dan budaya yang berbeda-beda, (5) Memadukan gender kepada semua kegiatan perencanaan dan mekanisme dan (6) Membantu pengklarifikasian batasan-batasan politik dan teknik dalam pelaksanaan praktek perencanaan.

Ada 6 alat yang dipergunakan kerangka ini dalam perencanaan untuk semua tingkatan, mulai dari tingkatan proyek hingga ke tingkatan perencanaan daerah, yaitu:
1. Alat 1 :Identifikasi Peranan Gender (“Tiga-Peran”, yang meliputi kiprah produkstif, reproduktif, dan kemasyarakatan/ kerja sosial) yang meliputi penyusunan pembagian kerja gender/ pemetaan acara pria dan wanita (termasuk anak wanita dan anak laki-laki) dalam rumahtangga selama periode 24 jam.

2. Alat 2 :Penilaian Kebutuhan Gender. Moser menyebarkan alat ini menurut konsep yang dikembangkan oleh Maxine Molyneux pada 1984. Penilaian kebutuhan gender didasari atas kebutuhan wanita yang berbeda dengan pria alasannya yaitu dan mempertimbangkan posisi subordinat wanita terhadap pria dalam masyarakat. Kebutuhan-kebutuhan dibedakan atas:

a. Kebutuhan Mudah Gender3.8 berkaitan dengan kebutuhan kehidupan sehari-hari mirip kebutuhan wanita akan persediaan sumber air bersih, makanan, pemeliharaan kesehatan dan penghasilan tunai untuk kebutuhan rumahtangga, dan pelayanan dasar perumahan. Mengidentifikasi kebutuhan mudah wanita sangat penting untuk memperbaiki kondisi kehidupan kaum wanita meskipun masih belum sanggup merubah posisi subordinat perempuan.

b. Kebutuhan Strategis Gender3.8 berkaitan dengan keadaan yang dibutuhkan untuk mengubah posisi subordinat perempuan. Hal ini bekerjasama dengan informasi kekuasaan dan kontrol, hingga dengan eksploitasi pembagian kerja menurut jenis kelamin. Kebutuhan strategis bekerjasama dengan usaha penyusunan jaminan aturan terhadap hak-hak legal, peniadaan tindak kekerasan, upah yang sama/ setara, kesetaraan dalam mempunyai properti, produktif, reproduktif dan kemasyarakatan mereka. Perlu juga diidentifikasi apakah suatu intervensi yang direncanakan akan meningkatkan beban kerja wanita atau menambah penderitaan kaum perempuan.

5. Alat 5 :Matriks Kebijakan WID (Women In Development) dan GAD (Gender And Development) yang akan memperlihatkan masukan untuk pengarusutamaan gender.

6. Alat 6 :Pelibatan stakeholder yang meliputi Organisasi Perempuan dan institusi lain dalam Penyadaran Gender pada Perencanaan Pembangunan. Tujuan dari alat ini yaitu untuk memastikan bahwa kebutuhan wanita masuk dalam proses perencanaan pemerintah dalam mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender di tingkat keluarga dan masyarakat.

Proses Analisis Model Moser sanggup diilustrasikan sebagai berikut:
1. Analisis Pola Pembagian Kerja melalui Curahan Kerja (Profil Kegiatan) untuk pria maupun wanita baik kiprah produktif, reproduktif, maupun sosial kemasyarakatan di tingkat keluarga. Melalui analisis teladan pembagian kerja dalam keluarga akan memperlihatkan citra sejauh mana pria mengambil cuilan kiprah domestik, dan sejauh mana wanita mengambil cuilan kiprah produktif. Disamping itu melalui analisis ini diketahui pula seberapa jauh wanita masih mempunyai waktu luang untuk melaksanakan kegiatan produktif, kapan waktu itu tersedia biar sempurna dalam memperlihatkan masukan ketrampilan teknis pada perempuan. Analisis ini juga memperlihatkan informasi wacana peluang baik pria maupun wanita dalam memanfaatkan sumberdaya yang ada baik modal, alat-alat produksi, teknologi, media informasi, pendidikan, dan sumberdaya alam yang tersedia. Akhirnya, analisis ini memperlihatkan informasi wacana kekuatan pengambilan keputusan dan peluang untuk mendistribusikan kekuatan tersebut antara pria dan perempuan.

2. Analisis Profil Akses (peluang) dan Kontrol (kekuatan dalam pengambilan keputusan) yang berkaitan dengan sumberdaya fisik (tanah, modal, alat-alat produksi), situasi dan kondisi pasar (komoditi, tenaga kerja, pemasaran, kredit modal, informasi pasar), serta sumberdaya sosial-budaya (media informasi, pendidikan, training ketrampilan).

3. Analisis faktor-faktor yang mensugesti profil kegiatan serta profil saluran dan kontrol biar sanggup dipakai sebagai alat untuk memilih hal-hal yang menghambat atau menunjang sebuah program/ proyek. Faktor-faktor yang perlu dianalisis meliputi lingkungan budaya, tingkat kemiskinan, distribusi pendapatan dalam masyarakat, struktur kelembagaan, penyebaran pengetahuan, teknologi dan ketrampilan, norma/nilai-nilai individu dan masyarakat, kebijakan lokal/regional, peraturan/hukum, training dan pendidikan, kondisi politik, local wisdom dan lain sebagainya.
Buat lebih berguna, kongsi:
close