photo lineviral_1.png

Teknik Bluffing dalam Politik

Penggunaan istilah bluffing dalam konteks politik akhir-akhir ini cukup sering dipakai dalam perbincangan. Kata bluffing sendiri berasal dari bahasa Inggris yang berarti menggertak. Seperti penggunaan istilah dari bahasa asing lainnya, kata bluffing mengalami perluasan makna, tak sebatas arti kata secara harfiah.


Teknik Bluffing dalam Politik

Bluffing politik memiliki makna yang lebih luas lagi. Menggertak biasanya dilakukan oleh seseorang kepada orang lain yang dianggap sebagai musuh. Dalam konteks ini jelas siapa yang menggertak dan siapa yang digertak. Contoh: Ali menggertak pencuri dengan sebilah pedang. Dalam konteks ini tentu tidak cocok jika kalimatnya menjadi: Ali mem-bluffing pencuri dengan sebilah pedang.

Bluffing dalam politik seringkali digunakan oleh politisi dalam bentuk pernyataan, tindakan dan sikap. Bila dicermati lebih jauh, bluffing politik berkonotasi sebagai sesuatu yang tak ada/tak benar, tetapi dugunakan oleh politisi untuk mengelabui keadaan. Bluffing politik digunakan untuk menguatkan posisi tawar terhadap pihak lain. Bluffing politik juga dilakukan untuk mengubah dan mengrahkan opini publik.

Tehnik bluffing biasanya dilakukan oleh para penjudi. Dalam permainan kartu misalnya, bluffing dilakukan dengan cara memberikan umpan seakan-akan kartu yang dipegang bagus. Juga dilakukan dengan cara tak segan-segan memasang taruhan dalam jumlah yang besar. Begitu lawan main gentar, maka si penjudi yang melakukan bluffing akan menguasai permainan. Psikologis lawanlah yang diserang dengan tehnik bluffing.

Target dari bluffing politik adalah membuat kondisi psikologis lawan politik menjadi gentar. Dan jika itu ditujukan kepada masyarakat, maka tujuannya agar membuat masyarakat terpukau. Setelah mendapatkan respon psikologis yang demikian, maka politisi yang bersangkutan akan leluasa memainkan strategi yang diinginkan.

Contohnya dalam kasus korupsi Gedung Atelit Hambalang. Anas Urbaningrum melakukan bluffing dengan mengatakan kepada media, bahwa ia memiliki data keterlibatan SBY dan Ibas. Tetapi sampai saat ini pernyataan tersebut tidak terbukti. Tidak pernah ada data yang diserahkan oleh Anas kepada KPK terkait pernyataannya tersebut.

Contoh lain lagi, dalam sebuah kontestasi politik, pada saat kampanye, seorang kandidat mengatakan telah meraih dukungan 95% dari pemilih. Tetapi, pada kenyataanya, setelah pencoblosan, suara yang diperoleh tak lebih dari 10% saja. Tujuan melakukan bluffing dalam konteks ini adalah untuk memperkuat dukungan. Pemilih mengambang atau kelompok kepentingan tertentu biasanya akan mengarahkan dukungan kepada kubu yang dianggap berpotensi menang.

Jadi, pada intinya, bluffing politik hanyalah sebuah gertakan yang bertujuan untuk menggambarkan diri dalam posisi yang kuat secara politik. Dalam politik praktis, bluffing boleh-boleh saja dilakukan. Tapi ingat, jika terlalu sering melakukan bluffing dan tidak pernah dibuktikan, maka hanya akan membuat citra politik Anda merosot. Masyarakat akan menilai Anda sebagai politikus yang tidak jujur.
Buat lebih berguna, kongsi:
close