Cara Memotong Kuku Dan Waktunya Sesuai Sunnah

‎Kita Semua pasti pernah memotong kuku kita. Namun tahukan anda cara memotong kuku yang benar sesuai dengan sunnah yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW? Apakah anda sudah mengetahui waktu yang afdhal untuk memotong kuku? Kali ini kami akan membahas tentang Cara Memotong Kuku Dan Waktunya Sesuai Sunnah Nabi Muhammad SAW.

Cara Memotong Kuku Dan Waktunya Sesuai Sunnah


Memotong kuku itu sunanhnya di hari Senin, atau Kamis, atau jum’at, untuk mengikuti Nabi Muhammad SAW. Adapun di hari selain itu seperti hari Sabtu, minggu, Selasa dan Rabu maka hendaknya jangan memotong kuku di hari tersebut. Karena ada atsar yang lemah dikatakan bahwa jika memotong kuku dihari tersebut akan menyebabkan beberapa penyakit.

Diriwayatkan dalam sebagian hadis, bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda:
“Siapa yg memotong kuku pda hari Rabu lalu ia terkena penyakit kudis maka jangan sekali-kali dia menyalahkan (orang lain) kecuali dirinya sendiri”

Ada seorang ulama yg mendengar hadist ini lalu ia berkata:
“Aah ini hadis dho’if dan lemah, aku tdk akan memotong kuku kecuali hari Rabu” (keras kepala). Ketika dia memotong kukunya pada hari Rabu, dia langsung terkena penyakit Kudis Padahal dia adalah orang yang shalih. Namun kadang-kadang dan seringkali hawa nafsu menang dari sebagian orang shalih.

Kemudian Tidurlah orang shalih tersebut, dan didalam mimpinya, dia melihat Rasulullah SAW. Orang shalih tersebut pun berkata Rasulullah SAW:
“Yaa Rasulullah aku terkena penyakit kudis”

Nabi SAW menjawab: “bukankah telah sampai kepadamu bahwa aku melarang memotong kuku pada hari Rabu?”

Orang shalih tersebut kemudian menjawab: “ tapi hadistnya tidak shohih yaa Rasulullah”

Nabi Muhammad SAW pun bersabda: “bukankah telah di katakan bahwa itu perkataan dari ku?”

Lalu Nabi Muhammad SAW meniup anggota tubuhnya yang terkena kudis, kemudian dia terbangun dan penyakitnya telah di sembuhkan oleh Allah SWT.

Itu orang Shaleh, adapun orang seperti aku dan kalian maka jangan seperti itu.

Dikatakan juga bahwa barang siapa yang memotong kuku pada hari Sabtu, maka akan terkena penyakit “Akalah” yaitu penyakit yang memakan tulang sedikit demi sedikit sampai habis.

Begitu juga dengan Hari Ahad dan Selasa.

Kesimpulannya adalah Hendaklah kalian tidak memotong kuku kecuali pada hari Senin, Kamis atau hari Jumat.

Al Habib Idrus bin Umar Al-Habsy memotong kukunya setelah Ashar pada hari Jumat dan berkata:
“Sesungguhnya hari Jumat adalah hari pengampunan maka aku suka jika semua anggota tubuhku mendapat ampunan”

Ketika kamu ingin memotong kuku maka mulai lah dengan tangan kanan. Dari jari kelingking terus sampai ke jari jempol, kemudian tangan kiri dimulai dari jari telunjuk sampai ke jari kelingking lalu jari jempol.

Berkata sebagian ulama bahwa hendaknya memotong kuku dengan cara sebagai berikut:
Caranya yaitu sebagai mana dikatakan dlm syair: “potong lah kukumu sesui sunnah dan adab”

Tangan kanan dgn urutan “خوا بس” tangan kiri dgn urutan “اوحسب”
adapun خوا بس:
kho itu kelingking
lalu wawu itu jari tengah,
lalu alif itu jempol
lalu ba itu jari manis
lalu sin itu telunjuk

Lalu tangan kiri “اوحسب”
urutannya alif jempol
lalu wawu jari tengah,
lalu kho kelingking
lalu sin telunjuk
lalu ba jari manis

Silahkan mau pake cara pertama atau kedua, keduanya sesuai dengan sunah Nabi Muhammad SAW.

Dan hendaknya kamu dalam keadaan suci ketika ingin memotong kuku, baik dari Hadast Kecil maupun hadast Besar. Karena setiap anggota tubuh yg terlepas dari tubuhmu akan di kembalikan nanti di hari kiamat.

Oleh karena itu jika kamu memotong sesuatu dari tubuh, baik itu rambut maupun kuku, jika kamu memotong kuku dalam keadaan junub maka kuku tersebut akan meminta pertanggung jawaban darimu.

Selanjutnya setelah memotong kuku, maka cucilah ujung kuku dgn air bersih. Karena jika kamu tidak mencucinya, kemudian kamu menggaruk bagian dari tubuhmu, Kemungkinan akan menimbulkan penyakit kudis. Tetapi jika kamu mencucinya terlebih dahulu, maka tidak akan terjadi apa-apa untuk menggaruk dan sebagainya.

Begitulah sperti yang dikatakan para ulama dan yang telah mencobanya.

Imam Sufyan ats tsauri  berkata: “Tidaklah datang suatu hadis dari Nabi SAW kecuali aku akan mengamalkannya, walau hanya sekali”

Sumber: Al-Habib Salim bin Abdulloh Assyatiri

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel