Makna Seperangkat Alat Shalat Dan Mushaf Al-Qur'an

Saat ini banyak sekali orang yang melangsungkan pernikahan dengan mahar seperangkat alat shalat dan mushaf Al Qur’an. Namun saya yakin, hanya sedikit orang yang memahami makna dibalik dari mahar tersebut. Baiklah, kali ini kita akan membahas tentang Makna Mahar Seperangkat Alat Shalat Dan Mushaf Al-Qur'an.

Makna Seperangkat Alat Shalat Dan Mushaf Al-Qur'an


“Saya terima nikahnya Artya binti Abdullah dengan mas kawin seperangkat alat shalat dan mushaf Al-Qur’an dibayar tunai.” Sah.... Sah....

Sering kita dengar kata-kata ini ketika menghadiri akad nikah sesesorang. Bagi yang beragama Islam, seringkali mas kawinnya adalah berupa seperangkat alat shalat dan mushaf Al-Qur’an. Namun sangat disayangkan, setelah akad nikah selesai, perlengkapan shalat yang dijadikan sebagai mahar yang terbungkus rapi tersebut, hanya diletakkan didalam lemari dan tidak pernah dibuka untuk dipakai shalat.

Tidak berbeda jauh dengan kondisi mushaf Al-Qur’an yang juga dijadikan sebagai mas kawin, masih tersimpan rapi di atas rak buku dan berdebu. Dua barang yang dijadikan mas kawin tersebut hanya menjadi pajangan setelah pelaksanaan akad nikah.

Padahal jika kita pikirkan secara seksama, ada makna spesial dibalik pemberian perlengkapan shalat dan mushaf Al-Qur’an sebagai mahar.

Ketika seorang mempelai pria mengucapkan ”Saya terima nikahnya fulanah binti fulan dengan mas kawin seperangkat alat shalat dan mushaf Al-Qur’an“, ada ’beban‘ baru yang harus dipikulnya.

Beban tersebut yaitu sang suami berkewajiban untuk mengajarkan shalat kepada sang istri yang disimboli dengan pemberian seperangkat alat shalat. Sang Suami juga berkewajiban untuk menjaga shalat istrinya dengan terus mengingatkannya serta terus membimbingnya supaya tidak melewatkan kewajiban yang satu ini. Karena shalat adalah amalan pertama kali yang akan dihisab pada yaumul qiyamah kelak.

Begitu pula dengan mas kawin berupa mushaf Al-Qur’an. Mungkin bagi sebagian orang, kedua mahar ini hanya dianggap sebagai mahar yang murah meriah dan sangat mudah untuk didapatkan di negara yang mayoritasnya muslim ini.

Namun sebenarnya mahar mushaf Al-Qur’an adalah mahar termahal yang diberikan seorang suami kepada istrinya. Mengapa? Karna dengan memberikan mushaf Al-Qur’an sebagai mahar atau mas kawin, maka sang suami berkewajiban untuk mengajarkan kepada istrinya semua isi dari Al-Qur’an yang diberikannya kepada istri dari surat Al-Fatihah hingga surat An-Naas.

Selanjutnya Suami berkewajiban untuk menjadikan istrinya menjadi istri yang shalehah. Suami juga berkewajiban untuk membawa keluarganya kepada kehidupan rumah tangga yang berdasarkan Al-Qur’an dan menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup rumahtangganya.

Sangat disayangkan ternyata realitas yang ada tidak demikian. Mushaf yang dulunya dibungkus rapi sebagai mahar tersebut, tetap terbungkus rapi dalam plastik bening bergambar hati yang kini tergeletak didalam lemari atau rak. Tidak jauh beda dengan kondisi seperangkat alat shalat yang dulunya dibungkus rapi di dalam keranjang yang dihiasi kertas berwarna-warni kemudian dibungkus dengan plastik bening yang juga bergambar hati itu tersimpan rapi disebelah mushaf Al-Qur’an.

Tidak jadi masalah apabila mahar yang diberikan itu sengaja disimpan, karena memiliki mushaf dan peralatan shalat lain.

Kemudian yang menjadi masalah adalah ketika setelah pelaksanaan akad nikah, sang suami masa bodoh dengan janji yang dulu diucapkannya dan tidak mengindahkan ‘beban’ baru yang harus dipikulnya.

Tanggungjawab seorang suami merupakan sebuah kewajiban baginya untuk menjaga istri dan anak-anaknya dari api neraka. Sangat berat tanggungjawab yang harus dipikul oleh seorang suami.

Untuk para istri yang mendapatkan mahar seperangkat alat shalat dan mushaf Al-Qur’an tapi belum diajarkan isi dari Al-Qur’an, jangan ragu untuk menagih minta diajarkan kepada suami.

Sekalian mengingatkan suaminya tentang amanat yang mungkin terlupakan oleh suami. Dan untuk para suami yang ketika akad nikah memberikan mahar seperangkat alat shalat dan mushaf Al-Qur’an, dan belum memiliki andil dalam menjaga shalat istrinya dan mengajarkan isi Al-Qur’an yang diberikan, mari diajarkan istrinya. Biar istrinya makin shalehah, dan keluarga menjadi sakinah, mawaddah, warahmah.

Lalu untuk para calon istri dan suami, mulailah untuk mempersiapkan bekal untuk berlayar dalam bahtera rumah tangga kehidupan. Semoga kita menjadi calon istri atau istri yang solehah dan jika menjadi suami akan menjadi suami yang bisa membimbing keluarganya dengan baik.

Wallahu a’lam bissawab. Semoga Tulisan ini bermanfaat bagi kita semua. Aamiien yaa rabbal aalamiin.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel