Mencukur Bulu Kemaluan, Kumis dan Bulu Ketiak

Islam merupakan agama yang sempurna. Dalam Agama Islam, bukan hanya mengajarkan masalah Ketuhanan dan Ibadah semata. Islam juga mengajarkan kita bagaimana cara kita hidup, bahkan sampai hal kecil sekalipun seperti Cara Mencukur Bulu Kemaluan, Ketiak dan Kumis. 

Mencukur Bulu Kemaluan


Dalam hal mencukur bulu Kemaluan, Ketiak dan kumis, Nabi Muhammad SAW mengajarkan kepada kita agar mencukurnya dalam kurun waktu tidak lebih dari 40 hari. Ini merupakan sebuah ajaran yang sangat bagus untuk kebersihan, kenyamanan dan keindahan.

Selain untuk kebersihan, kenyamanan dan keindahan priadi ternyata hal kecil inipun bernilai ibadah. Subhanallah... sungguh Islam itu sangat indah dalam mengatur kehidupan manusia. Sampai-sampai hal yang kecil pun diatur dan kita bisa mendapatkan nilai ibadah jika melaksanakannya dengan benar.

1. Mencukur bulu kemaluan

Mencukur bulu kemaluan merupakan salah satu perintah Nabi Muhammad SAW yang terdapat didalam hadist yang diriwayatkan Abu Hurairah. Dalam hadist tersebut Nabi Muhammad SAW bersabda: “Fitrah ada 5 : khitan, mencukur bulu kemaluan, mencukur kumis, potong kuku, dan mencabut bulu ketiak.” (Hadist Riwayat Bukhari dan Muslim).

Selain hadist diatas, ada lagi hadist yang diriwayatkan oleh Istri Nabi Muhammad SAW, A’isyah radliallahu‘anha. Diriwayatkan oleh beliau bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Ada sepuluh hal dari fitrah (manusia) ; Memangkas kumis, memelihara jenggot, bersiwak, istinsyaq (menghirup air ke dalam hidung), potong kuku, membersihkan ruas jari-jemari, mencabut bulu ketiak, mencukup bulu pubis (istihdad) dan istinja (cebok) dengan air.” (Hadist Riwayat Muslim, Abu Daud, Tirmkdzi, Nasa’i, dan Ibnu Majah)

Kemudian, Imam as-Syaukani memberi penjelasan, Istihdad adalah mencukup bulu kemaluan. Digunakan istilah istihdad, yang artinya mengunakan pisau, karena dalam mencukurnya digunakan pisau. Sehingga bisa dilakukan dalam bentuk dicukur (habis), dipotong (pendek). (Nailul Authar, 1: 141).

Imam Syaukani juga menjelaskan di dalam kitab Nailul Authar, “Batas waktu maksimal adalah empat puluh hari sebagaimana yang telah ditentukan oleh Nabi SAW, maka tidak diperbolehkan untuk seorang muslim untuk tidak memotong melebihi 40 hari. Apabila dalam rentang sebelum empat puluh hari dan ingin memotongnya, maka hal ini juga masih diperbolehkan dan tidak melanggar sunnah”.

Hal tersebut sesuai dengan atsar yang diceritakan sahabat Nabi Muhammad SAW, Anas bin Malik berkata, “Kami diberi waktu dalam memendekkan kumis, mencukur kuku, mencabut bulu ketiak dan mencukur bulu kemaluan agar tidak dibiarkan lebih dari empat puluh malam”.

Tidak ada doa yang secara khusus dianjurkan untuk mencukur bulu kemaluan, artinya hal ini juga bisa dilakukan tanpa berdoa terlebih dahulu. Namun, disaat seseorang membuka aurat, maka hal ini bisa dijadikan waktu bagi jin untuk mengintip sehingga disunnahkan untuk membaca basmalah atau doa masuk kamar mandi seperti yang telah diriwayatkan hadits yang diriwayatkan oleh Sayyidina Ali bin Abi Thalib raddhiallahu 'anhu dimana Rasulullah SAW bersabda: “Hijab (penutup) antara pandangan jin dan aurat bani adam adalah ketika mereka masuk kamar mandi, mengucapkan bismillah”. (Hadist Riwayat Tirmidzi)

Namun rekomendasi pencukuran bulu kemaluan itu menurut keterangan yang di pahami dalam kitab Tuhfatul Habib ‘ala Syarhil Khathib itu diperuntukkan untuk laki-laki. Sedang untuk perempuan sebaiknya atau yang afdhal adalah mencabutnya.

Pendapat dari beberapa ulama :
Yang paling afdhal bagi laki-laki adalah mencukur bulu kemaluan, sedangkan bagi perempuan adalah mencabutnya. Para ulama berkata tentang hikmahnya, ‘Bahwa mencabut bulu kemaluan itu bisa mengendalikan syahwat, sedang mencukurnya itu bisa menguatkan syahwat.

Berbeda dengan ulama dari kalangan Madzhab Maliki, mereka menyatakan; ‘Karena mencabut bulu kemaluan (bagi perempuan) itu bisa melembutkan kemaluannya,’” (Sulaiman Al-Bujairimi, Tuhfatul Habib ‘ala Syarhil Khathib, Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah, cet ke-1, 1417 H/1996 M, juz I, halaman 337).

Sedang untuk laki-laki direkomendasikan untuk mencukurnya karena diangap akan mampu menambah vitalitasnya. Kendati demikian bahwa yang afdhal bagi perempuan mencabut bulu kemaluan.

Namun dalam hal mencabut bulu kemaluan bagi perempuan yang memang sanggup menahan rasa sakitnya. Jika memang tidak sanggup, maka mencukur bulu kemaluannya juga tidak menjadi masalah dan berhak mendapatkan kesunnahan, meskipun tidak mendapatkan keafdhalan atau keutamaan. Sebab, yang utama menurut pandangan ini adalah mencabutnya.

Bulu kemaluan yang tidak dicukur berisiko sebagai tempat berkembangnya bakteri jika tidak dibersihkan dengan baik. Bahkan bulu kemaluan yang tidak dibersihkan, akan menjadi tempat berkembangnya virus HPV. Human Papilloma Virus atau HPV adalah virus yang menginfeksi area kulit dan organ kelamin menjadi pemicu kanker serviks.

Kelenjar sebaceous yang ada dalam kulit berambut menghasilkan sekresi berbau. Lalu jika bercampur dengan bakteri yang dimiliki pada kulit dan rambut akan menghasilkan aroma yang disebut feromon. Namun akan memiliki bau tidak sedap jika memiliki bulu kemaluan dan tidak merawatnya. Pasalnya populasi bakteri akan berada di situ.

2. Mencukur Kumis

Diriwayatkan dari Zaid bin Arqam Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah SAW bersabda,
"Barangsiapa yang tidak pernah memotong kumisnya, maka ia bukan termasuk golongan kami”. (Hadist Riwayat Tirmidzi)

3. Mencabut Bulu Ketiak

Bulu ketiak merupakan salah satu rambut atau bulu yang harus di bersihkan dan tidak boleh dibiarkan tumbuh begitu saja. Bulu ketiak harus rutin untuk dibersihkan.

Cara membersihkannya, paling afdhal adalah dengan dicabut, namun bila tidak kuat mencabutnya, maka boleh memotongnya dengan gunting, pisau cukur dan semisalnya, atau menghilangkannya dengan tawas dan lainnya. (Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Jibrin, Fatwa-Fatwa Terkini, Darul Haq, 1999, Juz I, hlmn. 176).

Hikmah dari mencabut bulu ketiak adalah bahwa ketiak merupakan tempat bersemayamnya bau tak sedap. Dan bau tak sedap itu akibat dari kotoran yang bercampur dengan keringat yang ada di dalam ketiak dan kemudian menyebabkan bulu ketiak menjadi lebat. Oleh karena itu disyariatkan mencabut bulu di ketiak dimana pencabutan tersebut bisa melemahkan bulu ketiak kemudian mengurangi baunya.

Berbeda dengan mencukurnya yang akan menambah kuat bulu yang ada dan bahkan membuatnya menjadi bertambah lebat sehingga semakin menambah bau (tak sedap) pada ketiak tersebut,” (ibnu Hajr Al-Asqalani, Fathul Bari bi Syarhi Shahihil Bukhari, Beirut, Darul Ma’rifah, 1379 H, juz X, halaman 344).

Demikian ulasan mengenai membesihkan bulu kemaluan, bulu ketiak dan kumis menurut Islam yang menjadi sunnah Rasulullah SAW dengan tujuan menjaga kesehatan sekaligus kebersihan serta keindahan.

Karena kebersihan itu adalah sebagian dari iman
Semoga bermanfaat bagi kita semua. Aamiin yaa rabbal aalamiin.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel