Cara Thailand Lolos Dari Penjajahan Eropa

kita semua tahu bahwa Thailand ialah satu-satunya negara diasia tenggara yg tidak pernah dijajah pada jaman Dinasty ottoman kerajaan islam menahlukkan sentra perdagangan dunia 1453m konstantinopel,negara-negara eropa mulai enggan berdagang disana dan mencari eksklusif sumber rempah-repah.
 
Cara Thailand Lolos Dari Penjajahan Eropa


Thailand ialah nama dari negara yang pastinya tidak abnormal bagi orang Indonesia. Ya, itulah nama dari salah 1 negara kerajaan Asia Tenggara yang beribukota di Bangkok. Dan kalau membicarakan sejarah Thailand, maka topik yang paling populer dari Thailand ialah mengenai bagaimana negara tersebut mampu menjadi satu-satunya negara Asia Tenggara yang tidak pernah dijajah oleh bangsa Eropa sampai sekarang. Jadi, sesuai judulnya, artikel kali ini akan coba menjelaskan mengenai bagaimana Thailand mampu melaksanakan hal tersebut.

Bicara soal Thailand & kolonisasi bangsa Eropa, maka kita harus mundur ke masa ke-19. Pada masa itu, Thailand masih dikenal dengan nama "Siam" & pengaruhnya meliputi wilayah modern Laos serta Kamboja. Di sebelah barat, Siam berbatasan dengan Dinasti Alaungpaya / Konbaung yang kawasan kekuasaannya kurang lebih meliputi wilayah modern Myanmar. Terhitung semenjak tahun 1824, Alaungpaya terlibat perang dengan Inggris di mana Alaungpaya harus kehilangan daerahnya sejengkal demi sejengkal. Tahun 1886, seluruh wilayah Alaungpaya balasannya jatuh ke tangan Inggris & kemudian dilebur dengan koloni Inggris di India.

Siam tidak terlalu khawatir dengan ekspansi wilayah yang dilakukan Inggris di sebelah barat wilayahnya. Selain alasannya Alaungpaya merupakan musuh usang Siam, Siam memang mempunyai kekerabatan baik dengan Inggris. Sebagai contoh, Raja Chulalongkorn selaku pemimpin Siam dengan gelar "Rama V" (Rama ke-5) di masa kecilnya pernah mendapatkan pendidikan privat dari Anna Leonowens yang berkebangsaan Inggris. Ilmu yang pernah didapatnya tersebut lantas mendorong Rama V untuk melaksanakan sejumlah perubahan & modernisasi di Siam. Sementara di sektor ekonomi, Inggris merupakan partner dagang terpenting Siam di Bangkok, mempunyai hak menambang di wilayah Siam, & berkontribusi atas pemasangan jalur-jalur rel kereta di wilayah Siam.

Raja Rama V / Chulalongkorn. (Sumber)
Di sebelah timur Siam atau tepatnya di wilayah modern Vietnam, terdapat kerajaan berjulukan Dinasti Nguyen yang semenjak tahun 1857 harus berjibaku dengan invasi militer Perancis yang berdalih ingin melindungi para misionaris Perancis di wilayah timur Indocina (sebutan lain untuk wilayah Kamboja, Laos, & Vietnam). Puluhan tahun berselang atau tepatnya pada tahun 1883, Perancis berhasil menimbulkan seluruh Vietnam berada di bawah kekuasaannya. Dinasti Nguyen memang tetap dibiarkan berdiri, namun urusan internal & eksternal kerajaan tersebut berada di bawah kendali Perancis sepenuhnya.

Sukses menguasai Vietnam, Perancis kemudian mengalihkan fokusnya ke sebelah barat. Tahun 1884, Perancis memaksa raja Kamboja, Norodom, menandatangani janji yang menciptakan Kerajaan Kamboja berada di bawah kendali Perancis, sekaligus memastikan Kamboja tidak lagi berada di bawah efek Siam. Berlanjut ke tahun 1893, pasca timbulnya sejumlah kontak senjata antara pasukan Siam & Perancis di lembah Sungai Mekong, Perancis mengirimkan kapal perangnya ke lepas pantai Bangkok sambil menuntut pemerintah Siam semoga membiarkan Perancis menguasai wilayah di sebelah timur Sungai Mekong.

Siam mencoba meminta pemberian Inggris, namun Inggris menolak untuk ikut campur. Sadar kalau militernya tidak sekuat & semodern Perancis, Siam pun mengalah & membiarkan Perancis mencaplok wilayah di sebelah timur Mekong. Namun keberhasilan tersebut tidak menciptakan Perancis merasa puas. Perancis kini berencana mencaplok seluruh Siam & membaginya dengan Inggris. Maka, pada tahun 1896 perwakilan Inggris & Perancis terlibat perundingan di mana Perancis memberikan wilayah di sebelah barat Sungai Chao Phraya kalau Inggris baiklah untuk membantu Perancis menaklukkan Siam.

Peta Sungai Mekong.
Siam di lain pihak juga bertindak tidak kalah sigap & turut mengirimkan perwakilanya untuk bernegosiasi secara terpisah dengan Inggris. Dalam perundingan tersebut, perwakilan Siam berargumen kalau wilayah mereka sebaiknya dibiarkan tetap merdeka supaya mampu difungsikan sebagai kawasan penyangga (buffer zone) antara koloni Inggris & Perancis. Harapannya kalau koloni Inggris & Perancis tidak berbatasan secara langsung, maka konflik potensial di masa depan antara keduanya mampu dicegah. Inggris menyetujui ajuan tersebut, sekaligus memastikan kalau planning Perancis untuk menaklukkan seluruh wilayah Siam & membaginya dengan Inggris tidak akan terwujud.

Kesepakatan gres antara Siam & Inggris tidak lantas menciptakan Perancis menyerah. Tahun 1907, Perancis berhasil memaksa Siam menyerahkan sebagian kecil daerahnya yang ada di sebelah barat hilir Sungai Mekong. Sementara di sebelah selatan, janji gres dengan Inggris menciptakan Siam baiklah untuk melepas klaimnya atas Semenanjung Malaka bab utara. Walaupun Siam dalam prosesnya harus kehilangan sejumlah wilayah, negara tersebut berhasil memastikan statusnya sebagai satu-satunya negara Asia Tenggara yang tidak pernah dikuasai oleh bangsa Eropa sampai sekarang. Status yang menciptakan Thailand juga dikenal dengan nama lain "Muang Thai" (tanahnya orang-orang merdeka).

Catatan :

Walaupun Thailand dalam sejarahnya memang tidak pernah dijajah / dikoloni oleh bangsa Eropa, ialah hal yang kurang sempurna untuk menyebut Thailand sebagai negara yang daerahnya tidak pernah dijajah bangsa asing. Karena sampai masa ke-13, wilayah modern Thailand berada di bawah kekuasaan Kekaisaran Khmer yang berpusat di wilayah modern Kamboja. Lalu pada masa ke-16 & 18, wilayah Thailand secara berturut-turut sempat ditaklukkan oleh Dinasti Toungoo & Alaungpaya (keduanya berpusat di wilayah modern Myanmar). Sementara di masa ke-20, walaupun secara resmi berstatus sebagai negara tersendiri, Thailand semasa Perang Dunia II merupakan sekutu merangkap negara bawahan Jepang.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel